Proyek Jalan Hutama Karya di Papua Jadi Penopang Lumbung Pangan Nasional

JurnalPatroliNews – Jakarta – PT Hutama Karya (Persero) resmi menandatangani kontrak pembangunan Jalan Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) Wanam–Muting Segmen II di Gedung Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Jakarta, pada Senin (3/11/2025).

Proyek ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mendukung agenda Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, pemerataan pembangunan, serta penyediaan lapangan kerja.

Jalan KSPP Wanam–Muting sepanjang 138,5 kilometer akan menjadi jalur utama menuju lumbung pangan nasional di Papua Selatan.

Hutama Karya bersama mitra Kerja Sama Operasi (KSO) dipercaya membangun segmen kedua sepanjang 80,5 kilometer yang menghubungkan tiga distrik di Kabupaten Merauke, yaitu Ngguti, Kaptel, dan Muting. Infrastruktur ini diharapkan mampu memperlancar distribusi hasil pertanian, logistik, dan mobilitas masyarakat.

Penandatanganan kontrak dilakukan oleh EVP Divisi Sipil Umum Hutama Karya, Rizky Agung, bersama mitra KSO, serta disaksikan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo, Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti, Dirjen Bina Marga Roy Rizali Anwar, Sekjen PU Wida Nurfaida, dan Direktur Operasi I Hutama Karya, Agung Fajarwanto.

“Pembangunan Jalan KSPP Wanam–Muting merupakan bagian dari program berkelanjutan untuk mewujudkan kemandirian pangan, energi, dan air nasional. Keberhasilannya bergantung pada sinergi seluruh pihak agar fokus pada mutu, keselamatan kerja, serta pemberdayaan masyarakat lokal,” ujar Roy Rizali Anwar.

Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah atas kepercayaan yang diberikan. “Proyek ini menjadi fondasi penting bagi pengembangan kawasan dan pembukaan potensi ekonomi lokal,” ujarnya.

Proyek yang ditargetkan rampung akhir 2027 ini menghadapi tantangan geografis, mulai dari curah hujan tinggi, keterbatasan material, hingga kondisi rawa dan pasang surut air sungai.

Untuk itu, Hutama Karya telah menyiapkan strategi rekayasa teknik yang adaptif, metode konstruksi yang sesuai kondisi lahan, serta memperkuat koordinasi lintas pihak di lapangan.

Jalan sepanjang 80,5 kilometer ini menggunakan perkerasan aspal dan dilengkapi tiga jembatan baja masing-masing sepanjang 80 meter, 100 meter, dan 300 meter.

Infrastruktur tersebut akan menjadi jalur utama yang menghubungkan kawasan pertanian dengan pusat distribusi serta pelabuhan, mempercepat akses pasar dan menekan biaya logistik.

Selain membuka akses transportasi, pembangunan ini juga diarahkan untuk mengoptimalkan lahan baru di Papua Selatan agar menjadi kawasan pertanian berskala besar dengan tanaman utama seperti padi, jagung, dan kedelai.

Hutama Karya menegaskan komitmennya terhadap pelibatan masyarakat lokal dan penerapan prinsip berkelanjutan agar proyek ini membawa manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat Papua.

“Melalui pembangunan proyek Jalan KSPP Wanam–Muting, kami ingin menghadirkan pemerataan pembangunan berkelanjutan, memperkuat fondasi ketahanan pangan, serta mendorong ekonomi daerah di Papua,” tutup Mardiansyah.