JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal perundingan terbaru yang diajukan oleh pemerintah Iran.
Tawaran perdamaian yang dikirimkan Teheran melalui mediator Pakistan tersebut dinilai belum memenuhi poin-poin krusial yang menjadi tuntutan utama Washington.
“Mereka memang ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Jumat (1/5/2026).
Proposal yang disebut sebagai “Rencana 10 Poin” tersebut diserahkan Teheran sebagai respons atas ketegangan yang telah berlangsung selama sembilan pekan.
Salah satu poin utama yang ditawarkan Iran adalah kesediaan membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, Teheran mengajukan syarat agar Amerika Serikat segera mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan mereka dan menghentikan seluruh serangan militer.
Ketidakpuasan Trump diduga kuat berasal dari sikap Iran yang tetap bersikeras menunda pembahasan mengenai program nuklir dan rudal balistik mereka ke tahap perundingan selanjutnya.
Washington secara tegas menginginkan komitmen nuklir dimasukkan sejak awal dalam draf kesepakatan permanen.
“Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui pers. Presiden hanya akan menerima kesepakatan yang benar-benar baik bagi rakyat Amerika dan stabilitas dunia,” tegas juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa pintu diplomasi tetap terbuka. Meski demikian, ia menekankan bahwa kemajuan perundingan sangat bergantung pada perubahan pendekatan AS yang selama ini dinilai Teheran terlalu provokatif dan mengancam.
Situasi ini semakin pelik karena bertepatan dengan tenggat waktu 60 hari Undang-Undang Kewenangan Perang (War Powers Act) di AS.
Trump baru-baru ini mengirim surat ke Kongres yang menyatakan bahwa “permusuhan” dengan Iran telah mereda berkat gencatan senjata, sebuah argumen yang ia gunakan untuk melanjutkan operasi militer tanpa perlu otorisasi tambahan dari parlemen.
Hingga saat ini, proses mediasi yang dipimpin Pakistan masih berlangsung di tengah kebuntuan. Harga minyak dunia pun dilaporkan kembali berfluktuasi tajam seiring belum adanya kepastian kapan jalur vital di Selat Hormuz akan benar-benar aman sepenuhnya dari blokade.














