Kasus Siswa SD Bunuh Diri di Ngada: Kepala Sekolah Tegaskan Tidak Ada Praktik Perundungan

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kepolisian Resor (Polres) Ngada tengah melakukan penyelidikan mendalam guna mengungkap penyebab pasti di balik aksi nekat seorang siswa sekolah dasar (SD) yang ditemukan tewas gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Fokus utama penyelidikan saat ini adalah untuk memastikan apakah terdapat unsur perundungan atau bullying yang melatarbelakangi tindakan korban.

Hingga Sabtu (7/2/2026), penyidik telah memanggil dan meminta keterangan dari sejumlah pihak, termasuk jajaran pengajar di sekolah tempat korban menimba ilmu.

Kepala Sekolah SDN RJ, Maria Ngene, memberikan klarifikasi tegas setelah menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Maria menyatakan bahwa berdasarkan pengamatannya dan laporan para guru, tidak ditemukan adanya indikasi perundungan terhadap korban di lingkungan sekolah.

Ia menjelaskan bahwa suasana di sekolah cenderung kekeluargaan karena mayoritas siswa berasal dari latar belakang keluarga petani di pedesaan.

Maria menggambarkan sosok Yohanes sebagai anak yang berperilaku baik, ramah, dan memiliki hubungan yang dekat dengan teman-teman sekelasnya tanpa pernah terlibat keributan.

Terkait desas-desus mengenai keterbatasan perlengkapan belajar yang dialami korban, pihak sekolah mengaku tidak menerima laporan khusus mengenai hal tersebut.

Maria menjelaskan bahwa pemantauan kebutuhan pribadi siswa biasanya dilakukan secara berkala oleh wali kelas masing-masing.

Namun, selama awal semester ini, tidak ada keluhan yang menonjol dari korban terkait kendala fasilitas belajar maupun masalah pribadi lainnya yang disampaikan kepada pihak sekolah.

Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino, menegaskan bahwa proses hukum dijalankan secara profesional dengan mengumpulkan keterangan dari berbagai saksi guna melihat gambaran kasus secara utuh.

Berdasarkan hasil visum et repertum, tim medis tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.

Untuk sementara, polisi menduga motif tindakan tersebut murni karena rasa putus asa. Penyelidikan juga mencatat bahwa korban tidak memiliki akses terhadap telepon genggam, sehingga faktor pengaruh media sosial dapat dikesampingkan dalam pemeriksaan awal ini.