JurnalPatroliNews | Makassar — Kompetensi SDM Vokasi menjadi perhatian Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dalam upaya menyiapkan lulusan yang siap menghadapi kebutuhan dunia kerja. Selain menguasai keterampilan teknis, lulusan pendidikan vokasi perlu membangun karakter, memperkaya pengalaman, meningkatkan kemampuan kolaborasi, serta memahami perkembangan teknologi digital.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi saat memberikan kuliah umum di Politeknik Penerbangan Makassar, Kamis (29/10/2026).
Cris menegaskan bahwa dunia kerja saat ini tidak hanya mempertimbangkan latar belakang pendidikan, tetapi juga kemampuan nyata yang dimiliki calon tenaga kerja. Karena itu, taruna dan taruni perlu mempersiapkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri agar mampu bersaing setelah menyelesaikan pendidikan.
“Karena sekarang di dunia kerja itu yang ditanya bukan school saja, tetapi lebih kepada skill. Perusahaan merekrut bukan untuk melihat lulusan dari mana, tetapi kompetensinya yang benar-benar dibutuhkan. Maka kompetensi ini menjadi sesuatu yang harus kita siapkan,” tegas Cris.
Empat Bekal Penting Memasuki Dunia Kerja
Cris menjelaskan, terdapat empat bekal utama yang perlu dipersiapkan taruna dan taruni untuk menghadapi dunia profesional, yakni kompetensi, karakter, pengalaman, dan kolaborasi.
Kompetensi menjadi dasar agar lulusan mampu menjalankan tugas sesuai kebutuhan pekerjaan. Sementara itu, karakter dibutuhkan untuk membangun kedisiplinan, integritas, tanggung jawab, serta etos kerja.
Pengalaman juga berperan penting karena membantu calon tenaga kerja memahami situasi nyata di lapangan. Adapun kemampuan berkolaborasi diperlukan agar mereka dapat bekerja sama dengan rekan kerja, berkomunikasi secara efektif, dan menyelesaikan persoalan dalam lingkungan profesional.
Menurut Cris, pencapaian akademik perlu dilengkapi bukti kemampuan yang dapat ditunjukkan kepada calon pemberi kerja. Bukti tersebut dapat berupa proyek yang telah diselesaikan, portofolio karya, pengalaman praktik di lapangan, maupun sertifikasi kompetensi yang relevan.
Melalui pendekatan tersebut, lulusan diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis, tetapi juga mampu menunjukkan keterampilan yang dapat diterapkan dalam pekerjaan.
Literasi Digital dan AI Jadi Bekal Tambahan
Selain kompetensi teknis, Cris mengingatkan pentingnya penguasaan literasi digital dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Perkembangan teknologi telah membawa perubahan terhadap proses kerja di berbagai sektor. Karena itu, calon tenaga kerja perlu memahami penggunaan perangkat digital, mengikuti perkembangan teknologi, dan mampu beradaptasi dengan metode kerja yang terus berubah.
Cris menilai kemampuan memanfaatkan teknologi secara tepat dapat membantu lulusan meningkatkan produktivitas dan menghadapi tuntutan pekerjaan modern.
Namun, penguasaan teknologi perlu diimbangi kemampuan berpikir kritis, tanggung jawab, dan pemahaman terhadap etika penggunaannya. Teknologi dan AI dapat menjadi alat pendukung pekerjaan, tetapi hasil penggunaannya tetap memerlukan penilaian manusia sesuai konteks dan kebutuhan.
Bagi lulusan vokasi, pengembangan kemampuan digital juga perlu disesuaikan dengan bidang keahlian masing-masing, termasuk kebutuhan industri transportasi dan penerbangan yang menuntut ketelitian, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Kemnaker Perkenalkan Ekosistem Digital SIAPKerja
Dalam kesempatan tersebut, Kemnaker juga memperkenalkan ekosistem layanan digital ketenagakerjaan SIAPKerja yang dirancang mendukung pengembangan kompetensi dan persiapan memasuki dunia kerja.
Layanan yang diperkenalkan meliputi SkillHub, MagangHub, SertiHub, KarirHub, BizHub, dan Talent Innovation Hub.
Masing-masing layanan memiliki fokus yang berkaitan dengan pengembangan keterampilan, kesempatan pemagangan, sertifikasi, akses karier, pengembangan usaha, dan inovasi talenta.
Pengenalan layanan digital tersebut diharapkan membantu taruna dan taruni memahami berbagai jalur yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapan kerja setelah menyelesaikan pendidikan.
Akses terhadap informasi pelatihan, sertifikasi, pemagangan, dan peluang karier dapat menjadi salah satu pendukung bagi lulusan dalam merencanakan langkah berikutnya. Meski demikian, pemanfaatan layanan tersebut perlu disertai persiapan kompetensi dan pemilihan peluang yang sesuai dengan bidang keahlian serta tujuan karier masing-masing.
Integritas dan Semangat Pantang Menyerah
Selain aspek keterampilan, Cris berpesan agar para taruna dan taruni menjaga integritas serta membangun semangat pantang menyerah.
Menurutnya, keberhasilan dalam dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh sikap dan tindakan seseorang dalam menjalankan tanggung jawab.
Integritas diperlukan untuk membangun kepercayaan, sedangkan kedisiplinan dan ketekunan membantu seseorang menghadapi tantangan serta menyelesaikan tugas secara konsisten.
Cris juga mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh faktor eksternal. Sikap, keberanian mengambil tanggung jawab, dan kesediaan memperbaiki diri merupakan bagian dari proses membangun kualitas kepemimpinan.
Pesan tersebut relevan bagi taruna dan taruni yang nantinya akan memasuki dunia kerja dengan tuntutan profesionalisme, keselamatan, dan pelayanan yang tinggi.
Melalui pembentukan karakter dan penguatan kompetensi, lulusan diharapkan mampu menjadi tenaga kerja yang tidak hanya terampil, tetapi juga dapat dipercaya dalam menjalankan tugas.
SDM Transportasi Unggul untuk Indonesia Emas 2045
Sementara itu, Direktur Politeknik Penerbangan Makassar Sukarwoto menyampaikan bahwa penyiapan sumber daya manusia transportasi yang unggul, kompeten, dan berdaya saing global menjadi salah satu faktor penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, pencapaian tujuan tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia usaha agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan profesional.
Pendidikan vokasi memiliki peran dalam menjembatani kebutuhan industri dengan ketersediaan tenaga kerja. Karena itu, materi pembelajaran dan praktik pendidikan perlu terus diselaraskan dengan perkembangan teknologi, standar profesi, dan perubahan kebutuhan pasar kerja.
Kerja sama dengan dunia usaha juga dapat membantu lembaga pendidikan memahami kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Dengan demikian, lulusan memperoleh bekal yang lebih relevan ketika memasuki dunia kerja.
Dalam sektor transportasi dan penerbangan, penguasaan keterampilan teknis perlu didukung kedisiplinan, ketelitian, kemampuan bekerja dalam tim, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Sukarwoto berharap sinergi dengan pemerintah dan dunia industri dapat memperkuat kualitas lulusan serta memperluas peluang mereka untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Kompetensi Nyata untuk Meningkatkan Daya Saing
Pesan Kemnaker dalam kuliah umum tersebut menekankan bahwa pendidikan vokasi perlu menghasilkan lulusan yang mampu menerapkan pengetahuan secara nyata.
Kompetensi teknis, karakter, pengalaman, kolaborasi, dan literasi digital menjadi bekal yang saling melengkapi untuk menghadapi kebutuhan pekerjaan yang terus berkembang.
Di sisi lain, lembaga pendidikan, pemerintah, dan dunia usaha perlu terus membangun kerja sama agar pelatihan dan pembelajaran selaras dengan kebutuhan industri.
Dengan persiapan tersebut, lulusan vokasi diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk memasuki dunia kerja, mengembangkan karier, dan meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun global.
Kemnaker berharap penguatan kualitas sumber daya manusia dapat menjadi bagian dari upaya membangun tenaga kerja Indonesia yang adaptif, produktif, dan siap menghadapi perubahan dunia kerja menuju Indonesia Emas 2045.















Komentar