JurnalPatroliNews – New York – Harga minyak mentah di pasar internasional dilaporkan mengalami penurunan sangat tajam pada penutupan perdagangan akhir pekan.
Merosotnya harga komoditas energi tersebut dipicu oleh menguatnya keyakinan pelaku pasar terhadap draf perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Hubungan diplomatik yang mendingin ini diperkirakan bakal meredakan ketegangan militer di kawasan strategis Teluk Persia dalam waktu dekat.
Pada perdagangan Jumat waktu setempat, harga minyak mentah jenis Brent ditutup merosot sebesar 3,05 Dolar AS atau sekitar 3,37 persen ke level 87,33 Dolar AS per barel.
Catatan tersebut menjadi level harga terendah bagi minyak patokan global tersebut sejak awal Maret lalu.
Sentimen negatif juga melanda minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) yang merosot 2,83 Dolar AS atau 3,23 persen ke level 84,88 Dolar AS per barel.
Penurunan tajam ini membawa minyak jenis WTI menyentuh titik terendahnya sejak perdagangan pertengahan April.
Optimisme Pemulihan Jalur Distribusi Selat Hormuz
Ekspektasi penurunan harga kian masif setelah muncul laporan bahwa Washington dan Teheran berpeluang menandatangani nota kesepahaman penghentian konflik pada pekan ini.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memproyeksikan pasokan minyak global akan kembali lancar sekaligus meminimalkan risiko gangguan pengiriman dari Timur Tengah.
Langkah ini diperkuat oleh keputusan Presiden Donald Trump yang resmi membatalkan ancaman serangan udara ke wilayah kedaulatan Iran.
Media lokal Iran turut melaporkan bahwa pembahasan akhir kesepakatan damai akan difokuskan pada pemulihan sektor ekonomi dan nuklir tanpa menyentuh program rudal mereka.
Pelaku pasar juga menyambut baik potensi operasional normal Selat Hormuz yang menjadi jalur krusial bagi seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Kendati demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa risiko lonjakan harga tetap mengintai akibat rendahnya persediaan minyak global menjelang musim panas di belahan bumi utara.
Koreksi Pertumbuhan Permintaan Jangka Panjang OPEC
Di sisi lain, bayang-bayang perlambatan konsumsi energi dalam jangka panjang mulai membayangi pergerakan harga komoditas strategis ini.
Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) secara resmi memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk periode tahun ini menjadi 970.000 barel per hari.
Angka tersebut mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan dengan proyeksi lembaga kartel tersebut sebelumnya yang mencapai 1,17 juta barel per hari.
Meskipun demikian, OPEC tetap menyatakan sikap optimistis bahwa konsumsi minyak global akan kembali menguat dan bangkit pada periode berikutnya.
Pihak kartel memproyeksikan permintaan global akan meningkat hingga 1,73 juta barel per hari pada masa mendatang karena penguatan sektor industri.
Sementara itu, bank investasi terkemuka Goldman Sachs justru memilih menurunkan proyeksi rata-rata harga Brent menjadi 80 Dolar AS per barel akibat ekspektasi melimpahnya pasokan baru.











