Krisis Panas di AS: Harga Listrik Melambung, Transportasi Ikut Terganggu

JurnalPatroliNews | Washington D.C. – Gelombang panas ekstrem yang melanda wilayah tengah hingga timur Amerika Serikat memicu lonjakan signifikan harga listrik grosir akibat meningkatnya konsumsi energi untuk penggunaan pendingin ruangan (AC). Kenaikan harga bahkan mencapai 243 persen di sejumlah kawasan.

Suhu udara di berbagai wilayah diperkirakan menyentuh 105 derajat Fahrenheit atau sekitar 40,5 derajat Celsius, dengan beberapa daerah berpotensi mencatat rekor suhu tertinggi harian maupun bulanan.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan serta masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap sistem pendingin ruangan yang memadai.

Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA), harga listrik grosir pada Kamis (2/7) melonjak drastis dibandingkan hari sebelumnya. Wilayah New England mencatat kenaikan lebih dari 243 persen, sementara New York City mengalami lonjakan sekitar 101 persen.

Di kawasan Midwest, harga listrik meningkat hampir 55 persen, sedangkan wilayah Mid-Atlantic mencatat kenaikan sekitar 45,6 persen.

Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya kebutuhan listrik untuk mengoperasikan pendingin ruangan di tengah cuaca yang semakin panas. Selain suhu tinggi, National Weather Service (NWS) juga memperingatkan tingkat kelembapan yang tinggi membuat suhu terasa jauh lebih menyengat.

Tekanan terhadap sistem kelistrikan pun semakin besar. PJM Interconnection, operator jaringan listrik terbesar di Amerika Serikat yang melayani puluhan juta pelanggan di kawasan Mid-Atlantic, Selatan, hingga Washington D.C., mengumumkan status peringatan federal dan meminta masyarakat mengurangi konsumsi listrik demi menjaga stabilitas pasokan.

Wali Kota Zohran Mamdani turut mengimbau warga agar menggunakan energi secara lebih efisien dengan mengatur suhu AC pada 78 derajat Fahrenheit atau sekitar 26 derajat Celsius, mematikan perangkat elektronik yang tidak digunakan, serta menjalankan mesin cuci maupun pencuci piring pada malam atau dini hari.

“Rekomendasi saya kepada seluruh warga New York adalah tetap berada di dalam ruangan dan menjaga tubuh tetap sejuk,” ujarnya.

Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan sektor energi. Berbagai aktivitas publik juga terganggu, termasuk dibatalkannya parade peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat di Philadelphia karena suhu yang melampaui 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 37,8 derajat Celsius.

Sektor transportasi juga menghadapi tekanan. Operator kereta Amtrak memperingatkan potensi perlambatan dan keterlambatan perjalanan di wilayah Timur Laut, Tenggara, dan Midwest akibat suhu tinggi yang memengaruhi infrastruktur rel.

Layanan New Jersey Transit juga mengantisipasi kemungkinan pembatalan maupun keterlambatan perjalanan, sementara Delta Air Lines memberikan kebijakan pembebasan biaya perubahan jadwal penerbangan melalui Bandara LaGuardia, New York, selama periode cuaca ekstrem berlangsung.

Di negara bagian Illinois, otoritas transportasi turut mengingatkan pengendara agar mewaspadai potensi kerusakan permukaan jalan yang dapat melengkung akibat paparan suhu yang sangat tinggi.

Para ilmuwan menilai meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas merupakan salah satu dampak perubahan iklim global yang dipicu oleh tingginya emisi gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Komentar