JurnalPatroliNews | Jakarta — Pesan kebangsaan mengemuka dalam Misa Syukur Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo mengajak umat Katolik, khususnya keluarga besar TNI-Polri, menjadikan iman sebagai kekuatan untuk terus mengabdi dan mencintai Indonesia.
Misa Syukur tersebut digelar di Gereja Santo Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (21/8/2026), mulai pukul 09.00 WIB. Perayaan ekaristi mengangkat tema “Mengabdi dengan Iman, Menjaga Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.”
Kardinal Suharyo memimpin misa didampingi sejumlah imam yang bertugas dalam lingkungan OCI, di antaranya Rm. Kolonel Purn Y.M.M. Bintoro, Pr selaku Wakil Uskup OCI, serta para pastor yang melayani umat Katolik di lingkungan TNI, Polri dan Keuskupan Agung Jakarta.
Dalam homilinya, Kardinal Suharyo mengajak umat memaknai 81 tahun perjalanan Indonesia sebagai bangsa merdeka dengan rasa syukur sekaligus komitmen untuk terus memberikan yang terbaik bagi kehidupan bersama.
Ia menekankan bahwa setiap bentuk pengabdian, sekecil apa pun, memiliki makna apabila dilakukan dengan ketulusan dan diarahkan bagi kebaikan sesama.
“Kita boleh yakin, apa pun yang kita usahakan, sekecil apa pun usaha kita, semuanya bisa kita persembahkan sebagai pujian bagi kemuliaan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama,” ujar Kardinal Suharyo.
Salah satu pesan utama yang disampaikan Kardinal Suharyo adalah ajakan agar umat tidak berhenti mencintai Indonesia.
Menurut dia, mencintai bangsa tidak cukup diwujudkan melalui perayaan simbolik, tetapi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata, pengabdian dan keberanian mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Kita tidak pernah lelah untuk mencintai Indonesia, mencari jalan-jalan baru, melakukan sesuatu,” tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi keluarga besar OCI yang selama ini menghadirkan pelayanan Gereja di tengah institusi TNI dan Polri.
Kardinal Suharyo menyampaikan apresiasi kepada para anggota TNI-Polri beserta keluarga besar OCI yang terus menjalankan pengabdian sekaligus menjaga nilai-nilai iman di lingkungan institusi negara.
Menurutnya, kehadiran Gereja di lingkungan TNI-Polri memiliki peran dalam memperkuat nilai kemanusiaan, tanggung jawab, pengabdian dan kecintaan terhadap bangsa.
Dalam refleksinya, Kardinal Suharyo juga mengingatkan bahwa perjalanan bangsa Indonesia masih dihadapkan pada berbagai persoalan.
Peringatan kemerdekaan tahun ini berlangsung ketika masyarakat masih menghadapi dampak berbagai bencana alam, gempa bumi hingga kondisi cuaca yang memengaruhi kehidupan di sejumlah wilayah.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa kehidupan bangsa tidak selalu berjalan dalam kondisi ideal. Karena itu, menurut Kardinal Suharyo, diperlukan kebijaksanaan agar berbagai persoalan dapat dihadapi secara bersama-sama.
Ia mengajak umat kembali menggali nilai-nilai kebijaksanaan yang terdapat dalam Kitab Suci sebagai sumber refleksi dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mengutip pesan Kitab Kebijaksanaan, Kardinal Suharyo menekankan pentingnya kepemimpinan yang bijaksana untuk menjaga ketertiban sekaligus mengupayakan kesejahteraan rakyat.
Nilai tersebut, menurutnya, relevan tidak hanya bagi pemimpin, tetapi juga bagi aparatur negara dan seluruh warga negara yang memiliki tanggung jawab dalam kehidupan bersama.
Kardinal Suharyo menegaskan bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga mengandung tanggung jawab untuk membangun kehidupan yang menghormati martabat manusia, memperjuangkan keadilan dan memastikan kesejahteraan dapat dirasakan bersama.
Dalam homilinya, Kardinal Suharyo menyoroti sejumlah nilai yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan masyarakat.
Pertama, penghormatan terhadap martabat manusia. Setiap manusia harus diperlakukan secara adil dan dihormati tanpa melihat latar belakang maupun kedudukannya.
Ia mencontohkan praktik sosial dan budaya tertentu yang masih berpotensi merugikan kelompok tertentu, termasuk ketika perempuan tidak memperoleh hak waris dari orang tuanya. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara kritis apabila berpotensi merendahkan martabat manusia.
Kedua, tanggung jawab mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan bersama. Kehidupan berbangsa tidak dapat dibangun apabila setiap orang hanya mengejar kepentingannya sendiri.
Ketiga, solidaritas, terutama dalam menghadapi kesenjangan antara kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah. Kardinal Suharyo mengingatkan bahwa ketimpangan juga dapat terjadi dalam hubungan antarnegara sehingga kekuatan tidak semestinya digunakan untuk menekan pihak lain.
Keempat, kepedulian terhadap kelompok yang rentan dan lemah sebagai bagian dari upaya menghadirkan kehidupan sosial yang lebih adil.
Kelima, tanggung jawab menjaga bumi sebagai rumah bersama. Persoalan lingkungan, perubahan kondisi alam dan bencana harus menjadi perhatian seluruh masyarakat karena dampaknya tidak mengenal batas kelompok.
Kelima nilai tersebut kemudian dikaitkan Kardinal Suharyo dengan makna kemerdekaan. Menurutnya, menjadi manusia yang benar-benar merdeka berarti terus mencari jalan untuk menghadirkan keadilan, solidaritas, kebaikan bersama, penghormatan terhadap martabat manusia dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kalau kita sungguh-sungguh ingin bertumbuh menjadi orang-orang yang merdeka, marilah kita berusaha mencari jalan-jalan mewujudkan tema yang dipilih untuk hari kemerdekaan kita,” pesannya.
Ia kemudian mengajak seluruh umat, terutama keluarga besar TNI-Polri, menjadikan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI sebagai kesempatan memperbarui komitmen pengabdian kepada Tuhan sekaligus tanah air.
“Melakukan sesuatu sekecil apa pun untuk Tuhan dan untuk tanah air,” kata Kardinal Suharyo.
Misa Syukur OCI akhirnya tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga ruang refleksi kebangsaan. Melalui tema Mengabdi dengan Iman, Menjaga Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, umat diajak menerjemahkan iman ke dalam pengabdian nyata serta terus menjaga Indonesia melalui tindakan yang membawa kebaikan bagi sesama.















Komentar