JurnalPatroliNews | Palembang – Modifikasi cuaca di Palembang kembali digencarkan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan. TNI bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta tim gabungan mengerahkan armada udara dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Senin (26/10/2026).
Dalam operasi tersebut, Satuan Tugas (Satgas) Udara Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH) menaburkan sebanyak 8,4 ton garam semai atau natrium klorida (NaCl). Material tersebut disebarkan melalui lima sortie penerbangan untuk mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah sasaran.
Operasi ini menjadi bagian dari upaya terpadu untuk membantu mengurangi risiko kebakaran yang meluas, terutama di kawasan rawan karhutla. Dukungan pesawat militer dan sipil dimanfaatkan guna menunjang pelaksanaan penyemaian awan sesuai kondisi atmosfer yang memungkinkan.
Informasi tersebut disampaikan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) dalam keterangan mengenai pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di wilayah Palembang dan sekitarnya.
Tiga Jenis Pesawat Dikerahkan
Pelaksanaan OMC melibatkan sejumlah armada udara, yakni pesawat Hercules C-130 dan Cassa NC-212 milik TNI Angkatan Udara, serta pesawat sipil jenis Caravan.
Penggunaan beberapa jenis pesawat tersebut mendukung pelaksanaan misi penyemaian awan melalui lima sortie penerbangan. Dalam operasi ini, garam semai NaCl disebarkan untuk merangsang proses pembentukan hujan pada awan yang memenuhi kondisi meteorologis yang sesuai.
Keterlibatan unsur udara menjadi bagian penting dalam mendukung operasi di wilayah yang membutuhkan penanganan karhutla. Pesawat digunakan untuk membawa dan menyebarkan bahan semai ke area sasaran berdasarkan pertimbangan teknis dan kondisi cuaca.
Meski demikian, keberhasilan modifikasi cuaca bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai, kelembapan, serta kondisi atmosfer lainnya. Penyemaian awan tidak secara otomatis menjamin hujan turun atau seluruh titik api dapat dipadamkan.
Karena itu, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap penanggulangan karhutla, bukan pengganti upaya pemadaman langsung di lapangan.
TNI dan BMKG Perkuat Penanganan Karhutla
Operasi modifikasi cuaca ini mencerminkan koordinasi TNI, BMKG, dan tim gabungan dalam mendukung penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan.
Dukungan TNI melalui pengerahan alutsista udara diharapkan membantu pelaksanaan misi penyemaian awan di kawasan yang membutuhkan tambahan curah hujan. Sementara itu, pelaksanaan OMC memerlukan pemantauan kondisi atmosfer agar penyebaran bahan semai dilakukan pada waktu dan lokasi yang tepat.
Upaya tersebut diarahkan untuk membantu mempercepat penanganan karhutla, terutama ketika kondisi cuaca kering dapat menyulitkan pemadaman dan meningkatkan risiko meluasnya kebakaran.
Selain dukungan dari udara, penanganan karhutla tetap membutuhkan kesiapan petugas darat, pemantauan titik api, serta koordinasi lintas instansi. Langkah pencegahan juga penting dilakukan untuk mengurangi potensi munculnya kebakaran baru.
Lima Sortie untuk Mendukung Pembentukan Hujan
Dalam pelaksanaan OMC pada Senin (26/10/2026), total 8,4 ton NaCl disebarkan melalui lima sortie penerbangan. Pelaksanaan tersebut memanfaatkan pesawat TNI AU dan armada sipil Caravan untuk mendukung misi penyemaian awan.
Jumlah bahan semai yang dikerahkan menunjukkan intensitas dukungan udara dalam operasi tersebut. Namun, dampak operasi terhadap curah hujan dan pengurangan titik api perlu dinilai berdasarkan pemantauan cuaca serta perkembangan kondisi karhutla setelah pelaksanaan misi.
Hujan yang turun di lokasi sasaran berpotensi membantu membasahi vegetasi dan mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api. Meski begitu, upaya pemadaman tetap harus menyesuaikan kondisi lapangan, luas area terdampak, dan potensi munculnya kembali titik api.
TNI bersama instansi terkait menegaskan komitmen untuk terus mendukung upaya penanggulangan karhutla melalui koordinasi dan pemanfaatan kemampuan yang tersedia.
Operasi modifikasi cuaca di Palembang diharapkan menjadi salah satu langkah pendukung dalam mengendalikan ancaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Efektivitasnya akan sangat bergantung pada kondisi atmosfer, sementara penanganan menyeluruh tetap memerlukan kerja sama berbagai unsur di darat maupun udara.













Komentar