JurnalPatroliNews – Jakarta – Gemerlap lampu dekorasi bertuliskan “Ramadan Kareem” kini mulai menjadi pemandangan lazim di jalan-jalan protokol Frankfurt, Jerman. Fenomena yang baru muncul dua tahun terakhir ini menjadi simbol menguatnya pengakuan identitas Islam di jantung Eropa, menyamai semaraknya tradisi Natal.
Hal tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk “ISLAM DI JERMAN: Menjadi Muslim, Perempuan, dan Minoritas” yang digelar oleh The Lead Institute Universitas Paramadina bersama Maha Indonesia, Pray Foundation, dan Pratita Foundation, Minggu (22/2/2026). Acara ini merupakan bagian dari rangkaian program “Cahaya Islam Lintas Benua”.
Islam Sebagai Agama Terbesar Kedua Ketua The Lead Institute, Dr. Phil Suratno Muchoeri, memaparkan data signifikan: Islam telah menjadi agama terbesar kedua di Jerman dengan sekitar 6 juta pemeluk (7% populasi).
Sejarahnya membentang dari gelombang Guest Workers asal Turki tahun 1950-an hingga pengungsi Timur Tengah pada dekade terakhir.
Uniknya, Indonesia memiliki jejak historis yang kuat di Jerman. Mulai dari sosok pelukis legendaris Raden Saleh yang kediamannya di Maxen kini dikenal sebagai “Masjid Biru” (Das Blau Moschee), hingga warisan intelektual B.J. Habibie yang temuannya masih digunakan dalam industri teknologi Jerman.
Ramadhan Musim Dingin dan Hangatnya Masjid Maroko Dounia Schuler Barkok, seorang guru Muslimah di Frankfurt, berbagi cerita tentang nikmatnya menjalani puasa tahun ini. Karena jatuh pada musim dingin, durasi puasa hanya berkisar 11-12 jam, jauh lebih ringan dibanding musim panas yang bisa mencapai 18 jam.
Di Maroko Mosque, Dounia merasakan kehangatan komunitas multikultural. “Kami melaksanakan Tarawih dengan Mazhab Maliki dan sering mengundang tetangga non-Muslim untuk berbuka puasa bersama. Meski hidangannya sederhana, semangat kebersamaannya sangat kuat,” ungkapnya.
Tantangan di Balik Cahaya Kota Namun, di balik semarak lampu jalanan, tantangan integritas masih membayangi. Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menyoroti rasisme dan Islamofobia yang masih kerap memicu diskriminasi ekonomi.
Dounia mengonfirmasi hal ini dengan fakta pahit: hanya sekitar 30% wanita Muslim di Jerman yang berani berhijab di ruang publik. “Keponakan saya ditolak berkali-kali saat melamar kerja hanya karena berhijab, meski kompetensinya mumpuni. Bahkan, nama yang terdengar ‘Islami’ pun sering menjadi target diskriminasi halus,” tuturnya.
Melawan Stigma dengan Aksi Nyata Menghadapi sentimen negatif seperti sebutan “Frankfurtistan” dari kelompok sayap kanan, komunitas Muslim Jerman memilih jalan komunikasi yang hangat. Salah satu tradisi unik yang dilakukan adalah membagikan makanan kepada lansia di panti jompo saat perayaan Natal.
“Kami ingin menunjukkan bahwa toleransi adalah berbuat kebaikan untuk siapa saja tanpa memandang agama,” tutup Dounia. Langkah kecil ini menjadi jembatan untuk menghapus sekat rasisme dan memperkokoh jati diri Muslim di tengah masyarakat Eropa.














