Panglima TNI Buka Dikreg Sesko TNI, Pesannya Tegas: Pemimpin Harus Berani Memutuskan

JurnalPatroliNews | Bandung – Perubahan lingkungan strategis yang semakin cepat membuat kebutuhan terhadap pemimpin militer yang mampu membaca situasi dan mengambil keputusan secara tepat menjadi semakin penting.

Pesan tersebut disampaikan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto saat membuka Pendidikan Reguler (Dikreg) LVI Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) Tahun Anggaran 2026.

Pembukaan pendidikan dilaksanakan oleh Komandan Sesko TNI Marsdya TNI M. Khairil Lubis yang mewakili Panglima TNI di Gedung Serasan Sesko TNI, Bandung, Jawa Barat, Selasa (11/8/2026).

Sebanyak 173 personel mengikuti pendidikan tersebut. Mereka terdiri atas 87 personel TNI Angkatan Darat, 51 personel TNI Angkatan Laut, dan 35 personel TNI Angkatan Udara.

Panglima TNI meminta seluruh peserta tidak melihat pendidikan Sesko TNI sebatas tahapan pendidikan formal, tetapi sebagai ruang untuk membangun kapasitas kepemimpinan menghadapi tantangan pertahanan yang semakin kompleks.

Dalam sambutan yang dibacakan Dansesko TNI, Agus mengatakan lingkungan strategis saat ini mengalami perubahan yang cepat dan sulit diprediksi.

Ancaman terhadap pertahanan tidak lagi hanya muncul dalam bentuk konvensional. Perkembangan teknologi telah melahirkan tantangan baru yang dapat bergerak lintas domain.

Perang hibrida, ancaman siber, disrupsi teknologi, rivalitas geopolitik hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi bagian dari dinamika yang harus dipahami para pemimpin militer.

Kondisi tersebut menuntut perwira untuk tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu memahami perubahan secara menyeluruh.

“Pemimpin harus mampu memahami perubahan, membaca lingkungan strategis, serta mengambil keputusan secara tepat,” tegas Panglima TNI.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan utama dalam pendidikan 173 peserta Dikreg LVI Sesko TNI.

Menurut Agus, perubahan karakter ancaman membuat pengalaman masa lalu saja tidak cukup menjadi modal seorang pemimpin.

Perwira dituntut mampu menyesuaikan cara berpikir dengan perkembangan lingkungan strategis.

Kemampuan membaca situasi, menganalisis risiko, memperkirakan kemungkinan perkembangan ancaman, serta menentukan langkah secara cepat dan tepat menjadi bagian penting dari kepemimpinan militer modern.

Karena itu, pendidikan Sesko TNI diarahkan untuk membangun pola pikir yang lebih adaptif dan strategis.

Panglima menekankan bahwa peserta didik harus mampu melihat persoalan tidak hanya dari satu sudut pandang.

Kemampuan analitis dibutuhkan agar setiap keputusan yang diambil dapat mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan konsekuensi.

Agus berharap pendidikan Sesko TNI mampu membentuk perwira yang memiliki karakter adaptif, visioner, analitis, dan strategis.

Keempat kemampuan tersebut dinilai penting agar para peserta mampu menghadapi dinamika pertahanan yang terus berubah.

“Pendidikan Sesko TNI harus membentuk kemampuan berpikir adaptif, visioner, analitis, dan strategis,” ujar Agus.

Menurutnya, kemampuan tersebut akan menjadi bekal bagi para perwira dalam melaksanakan tugas pokok TNI secara efektif.

Terlebih, tantangan pertahanan ke depan diperkirakan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan perubahan konstelasi geopolitik.

Dikreg LVI Sesko TNI menjadi ruang pendidikan bersama bagi perwira dari tiga matra.

Komposisi peserta menunjukkan adanya keterpaduan antara TNI AD, TNI AL, dan TNI AU.

Sebanyak 87 personel berasal dari TNI AD, 51 personel dari TNI AL, sedangkan 35 lainnya merupakan personel TNI AU.

Komposisi lintas matra tersebut menjadi bagian penting dalam membangun perspektif pertahanan yang terintegrasi.

Dalam menghadapi ancaman multidomain, kemampuan melihat pertahanan sebagai satu kesatuan menjadi semakin penting.

Perwira tidak cukup memahami karakteristik ancaman di matra masing-masing, tetapi juga harus mampu memahami keterkaitan antara kekuatan darat, laut, udara, teknologi, informasi, dan ruang siber.

Selain kemampuan strategis, Panglima TNI mengingatkan peserta agar menjalani seluruh proses pendidikan dengan disiplin dan penuh tanggung jawab.

Agus juga meminta para peserta mempertahankan semangat belajar selama mengikuti pendidikan.

“Saya ucapkan selamat kepada 173 peserta didik. Ikuti seluruh proses pendidikan dengan disiplin, tanggung jawab, dan semangat untuk terus belajar,” pesannya.

Penekanan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan seorang pemimpin tidak berhenti setelah mencapai jenjang kepangkatan tertentu.

Perubahan lingkungan strategis menuntut proses belajar yang terus berlangsung.

Perkembangan AI menjadi salah satu faktor yang turut mengubah karakter ancaman.

Teknologi dapat mempercepat proses pengambilan keputusan, pengumpulan informasi, analisis data, hingga pengembangan berbagai kemampuan pertahanan.

Namun pada saat yang sama, perkembangan teknologi juga membuka ruang ancaman baru.

Karena itu, pemimpin militer masa depan harus mampu memahami peluang sekaligus risiko yang muncul dari perkembangan teknologi.

Kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar organisasi pertahanan tidak tertinggal oleh perubahan.

Di tengah rivalitas geopolitik yang dinamis, perang hibrida dan ancaman siber yang semakin berkembang, kemampuan membaca situasi menjadi bagian penting dari kesiapan pertahanan nasional.

Pendidikan strategis yang diberikan kepada para perwira pada akhirnya tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan.

Lebih jauh, pendidikan tersebut diharapkan melahirkan pemimpin yang mampu menentukan respons organisasi terhadap ancaman secara tepat.

Seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

Keputusan tersebut harus didasarkan pada analisis, visi, kemampuan membaca perkembangan, serta pemahaman terhadap kepentingan nasional.

Dalam konteks itu, pesan Panglima TNI menjadi relevan: pemimpin masa depan tidak cukup hanya mampu menjalankan prosedur, tetapi harus mampu memahami perubahan dan menentukan arah tindakan.

Dikreg LVI Sesko TNI menjadi salah satu ruang untuk membangun kapasitas tersebut.

Dari 173 perwira yang mengikuti pendidikan, diharapkan lahir kader-kader pemimpin TNI yang mampu menghadapi perubahan lingkungan strategis, mengantisipasi ancaman multidomain, serta mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan bertanggung jawab.

Bagi TNI, kemampuan beradaptasi bukan lagi sekadar pilihan.

Di tengah perubahan teknologi, ancaman siber, perang hibrida, dan dinamika geopolitik, kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari kesiapan menghadapi tantangan pertahanan masa depan.

Komentar