Tegas..! Pancasila Sebagai Penjaga Nilai Kemanusiaan di Era Digital. Ini Kata Benny Susetyo

JurnalPatroliNews – Jakarta,- Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo menyatakan bahwa  dalam menghadapi era digital dimana kepopuleran dan kebombastisan lebih dipentingkan dibanding berita positif dan hal yang bermanfaat,Masyarakat khususnya generasi muda harus kembali kepada norma dan etika yang bersumber  dari nilai luhur Pancasila . hal ini dinyatakan oleh beliau dalam acara Seminar nasional meneguhkan Pancasila dan semangat kebangsaan di era digital  pada senin 11 April 2022

 Acara yang diselenggarakan oleh fakultas Ilmu Komunikasi universitas kristen satya wacana salatiga bekerjasama deputi bidang hubungan antar lembaga, sosialisasi dan jaringan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ini  dibuka oleh Deputi bidang hubungan antar lembaga,sosialisasi jaringan BPIP yang diwakili oleh direktur bidang jaringan dan pembudayaan Irene Camelyn Sinaga memaparkan bahwa acara ini merupakan perwujudan persatuan , kesatuan serta sinergitas   yang merupakan tujuan utama dari Pancasila yaitu kerjasama dan gotong royong , dan karenanya disampaikan terimakasih sebesar besarnya bagi kepada para pihak yang mendukung giat ini dan lebih lanjut mendukung upaya pembumian Pancasila

Bacaan Lainnya

Dalam kalimat pembuka pemantik diskusi  moderator acara Ibu Ester menyatakan bahwa Pancasila merupakan ideologi bangsa yang harus diperkenalkan sejak dini kepada generasi muda karena pancasila merupakan identitas bangsa dalam menghadapi era digital dengan ideologi ideologi asing yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa yang membonceng pada kemajuan tehnologi digital dan karenanya seminar ini dilaksanakan untuk membekali generasi muda agar tidak hanya melek digital tetapi juga berpegang teguh kepada Jiwa utama yang mempersatukan bangsa, yaitu Pancasila

Selanjutnya Bapak H. Amir Mahmud NS. SH. MH dari PWI sebagai narasumber menyatakan akibat perkembangan era digital, perkembangan media menjadi sangat signifikan namun belum ada keteraturan dan cenderung berkembang ke arah yang menajam menjadi malaikat atau iblis, pers menjadi malaikat ketika melaksanakan fungsi ideal dan menjadi iblis ketika lebih mengutamakan hal bombastis, viral dan terkenal dengan tidak memperdulikan etika jurnalistik, hal ini diperparah dengan ketidakmampuan mengendalikan diri untuk bergerak sesuai nilai dengan alasan semangat kebebasan bermedia dan hak asasi manusia, mereka tidak sadar bahwa kebebasan dan hak dasar ini dibatasi oleh hak manusia lain

Konten dan media yang disebarkan tidak lagi memikirkan mengenai penyebaran informasi, nilai dan konten konten positif yang berguna bagi publik, tapi yang terpikirkan hanya ad-sense, klik dan bagaimana konten tersebut dapat berkontribusi mengembalikan ongkos produksi kegiatan jurnalistik ini.

Perlu ada upaya nyata untuk kembali menjadi Penjaga bangsa untuk mengembalikan etika jurnalistik agar narasi narasi yang disajikan tidak hanya memiliki shock value saja, namun juga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan persatuan kesatuan bangsa

Pers harus kembali kepada fungsinya sebagai sarana berbagi informasi, ilmu, nilai dan hiburan yang dapat berperan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Pos terkait