Traze Open House Bahas Peluang Trading Emas di Tengah Tekanan IHSG

JurnalPatroliNews | Jakarta – Gejolak pasar saham dan pergerakan harga emas menjadi perhatian masyarakat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan. Menjawab pertanyaan apakah emas dapat menjadi peluang ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan, PT Traze Andalan Futures menggelar kegiatan edukasi bertajuk Traze Open House pada Kamis (29/10/2026).

Mengangkat tema “IHSG Rontok, Emas Jadi Peluang atau Jebakan?”, acara tersebut berlangsung di Sinarmas Land Plaza Sudirman (MSIG Tower), Lantai 35, Jakarta Selatan. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk talk show untuk memperkenalkan instrumen perdagangan emas sekaligus membahas risiko yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan transaksi.

Diskusi menghadirkan Ibrahim Assuaibi, pakar ekonomi, sebagai narasumber. Sementara itu, jalannya acara dipandu Kuswanto, Head Research Analyst sekaligus Wakil Pialang Berjangka Traze Andalan Futures.

Pembahasan tersebut berlangsung ketika pasar modal Indonesia menghadapi tekanan dan perhatian pelaku pasar tertuju pada penilaian serta kebijakan indeks global MSCI. Isu transparansi informasi, struktur kepemilikan saham, dan kepercayaan investor menjadi sejumlah hal yang ikut memengaruhi persepsi terhadap pasar saham domestik.

Di sisi lain, pergerakan harga emas juga tidak selalu mengikuti arah pasar saham. Karena itu, peserta diajak memahami faktor-faktor yang memengaruhi kedua instrumen tersebut, bukan sekadar mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat.

Membahas MSCI hingga Faktor Penggerak Harga Emas

Dalam sesi diskusi, peserta memperoleh penjelasan mengenai sejumlah persoalan yang berkaitan dengan kondisi pasar keuangan. Materi yang dibahas antara lain mengenai MSCI, termasuk bagaimana penilaian lembaga penyedia indeks global tersebut dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia.

Talk show juga mengulas cara membedakan koreksi harga sementara dengan penurunan yang mencerminkan persoalan lebih mendasar. Pemahaman tersebut dinilai penting agar investor tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena melihat harga saham melemah.

Untuk instrumen emas, diskusi menyoroti bahwa harga logam mulia tidak otomatis naik setiap kali pasar saham mengalami penurunan. Pergerakan emas dipengaruhi berbagai faktor, termasuk nilai tukar dolar Amerika Serikat, tingkat suku bunga, serta imbal hasil obligasi.

Peserta juga diajak memahami strategi menghadapi pasar yang bergejolak, termasuk menghindari keputusan membeli karena takut tertinggal momentum atau menjual karena panik. Selain itu, diskusi membahas sejumlah indikator pasar yang dapat menjadi perhatian dalam beberapa pekan mendatang.

Sesi tanya jawab turut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung kepada narasumber.

Traze Ingatkan Pentingnya Manajemen Risiko

Kuswanto menegaskan bahwa keputusan transaksi di pasar keuangan perlu didasarkan pada pemahaman dan perencanaan, bukan kepanikan maupun perilaku ikut-ikutan.

“Harga turun belum tentu berarti murah. Begitu juga emas, tidak otomatis naik setiap kali saham turun. Karena itu kita perlu memahami apa yang menggerakkan harga, bukan hanya melihat apakah pasar sedang panik atau tidak,” ujar Kuswanto.

Ia juga mengingatkan bahwa perdagangan emas, termasuk melalui kontrak berjangka atau instrumen XAUUSD, memiliki risiko yang harus diperhitungkan. Penggunaan margin dan leverage dapat memperbesar potensi keuntungan, tetapi pada saat yang sama juga dapat memperbesar kerugian.

Menurut dia, calon trader perlu menentukan rencana masuk dan keluar sebelum membuka posisi. Perhitungan mengenai batas kerugian yang mampu ditanggung juga perlu menjadi bagian dari strategi transaksi.

“Sebelum mengambil posisi, tentukan rencana masuk dan keluar, lalu hitung kerugian yang sanggup kita tanggung. Keuntungan tidak pernah dijamin. Yang bisa kita lakukan adalah belajar, membuat rencana, dan mengelola risiko dengan disiplin,” lanjutnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan utama dalam kegiatan Traze Open House, yakni pentingnya memahami karakteristik instrumen perdagangan sebelum menggunakan dana untuk bertransaksi.

Dorong Literasi Keuangan Melalui Traze HUB

Selain menggelar kegiatan tatap muka, Traze Andalan Futures menyampaikan komitmennya untuk memperluas edukasi melalui platform digital Traze HUB yang dapat diakses melalui situs resmi perusahaan.

Platform tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh informasi dan materi pembelajaran seputar perdagangan derivatif. Sejumlah fitur yang disediakan meliputi gambaran pasar, kalender ekonomi, berita pasar, serta materi Trading 101 yang berisi panduan dasar trading bagi pemula.

Perusahaan menyatakan kegiatan edukasi dan penyediaan materi digital itu diarahkan untuk membantu masyarakat memahami cara kerja instrumen derivatif, termasuk karakteristik risiko dan pentingnya pengelolaan transaksi.

Adhy Elma Raharja, Direktur Utama Traze Andalan Futures, mengatakan minat masyarakat terhadap perdagangan derivatif perlu diimbangi dengan peningkatan pemahaman mengenai produk dan risikonya.

“Kami melihat minat masyarakat terhadap trading derivatif terus melonjak, namun sering kali tidak diimbangi dengan literasi yang memadai,” kata Adhy.

Ia menjelaskan, program Open House dan platform Traze HUB dikembangkan untuk mendorong masyarakat melakukan transaksi berdasarkan prinsip kehati-hatian. Menurutnya, pemahaman tentang manajemen risiko dan psikologi trading menjadi bagian penting yang perlu dimiliki setiap pelaku pasar.

“Kami ingin memastikan setiap investor bertransaksi secara aman dan legal di bawah ekosistem yang terregulasi,” ujarnya.

Literasi Keuangan Indonesia Meningkat

Dorongan edukasi tersebut sejalan dengan kebutuhan memperkuat pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,57 persen.

Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025 yang sebesar 66,64 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan pada 2026 mencapai 93,61 persen, naik dari 92,74 persen pada tahun sebelumnya.

Kedua indeks tersebut telah melampaui target RPJMN 2025–2029, yakni 69,35 persen untuk literasi keuangan dan 93 persen untuk inklusi keuangan.

Meski meningkat, perbedaan antara indeks literasi dan inklusi masih menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat pemahaman masyarakat. Indeks inklusi yang mencapai 93,61 persen lebih tinggi 24,04 poin persentase dibandingkan indeks literasi sebesar 69,57 persen.

Data tersebut menggambarkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan telah meluas, sementara kemampuan memahami karakteristik produk, risiko, serta ketentuan penggunaannya tetap perlu ditingkatkan.

Dalam konteks perdagangan derivatif, pemahaman tersebut menjadi penting karena produk dengan mekanisme margin dan leverage mempunyai karakteristik risiko yang berbeda dari produk simpanan atau investasi konvensional.

Pasar derivatif dapat menawarkan peluang transaksi, tetapi juga memiliki risiko yang kompleks. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai mekanisme kontrak, penggunaan leverage, analisis pasar, dan pengendalian risiko, pelaku transaksi dapat menghadapi kerugian yang signifikan.

Traze Siapkan Peluncuran Aplikasi Baru

Dalam kesempatan yang sama, Traze Andalan Futures menyampaikan rencana peluncuran aplikasi Traze dalam waktu dekat. Namun, perusahaan belum mengumumkan tanggal resmi peluncuran aplikasi tersebut.

Informasi lebih lanjut, menurut perusahaan, akan disampaikan melalui kanal komunikasi resmi, termasuk akun Instagram dan TikTok @traze.indonesia.

Traze juga menyatakan timnya siap memberikan pendampingan kepada peserta yang ingin mengetahui layanan perusahaan. Pendampingan tersebut mencakup pengisian formulir, verifikasi dokumen, penjelasan produk dan risiko, hingga persetujuan ketentuan transaksi sesuai prosedur perusahaan.

Kuswanto menutup kegiatan dengan mengingatkan bahwa aktivitas trading tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan. Pemahaman terhadap risiko, perencanaan, dan disiplin menjalankan strategi merupakan bagian penting dalam aktivitas perdagangan.

“Bersama Traze, kami percaya bahwa trading bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga memahami risiko dan menjalankan strategi dengan disiplin. Mari belajar trading dengan lebih bijak,” tutup Kuswanto.

Komentar