JurnalPatroliNews | Tibubeneng – Warga Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Bali, meminta wisatawan mancanegara menghormati norma dan tata krama lokal setelah dua warga negara Australia diduga melakukan perbuatan asusila di pekarangan rumah warga.
Pemilik rumah, Wayan Suyadnya, menceritakan kejadian tersebut setelah dua WNA yang disebut dalam kondisi mabuk masuk ke area pekarangan rumahnya yang berada di sekitar kawasan wisata Jalan Pantai Berawa.
Saat kejadian, Suyadnya mengatakan terdapat istri, anak-anak, serta orang tuanya di dalam rumah. Istrinya bahkan tengah mempersiapkan sesajen ketika kedua WNA tersebut masuk ke pekarangan.
“Ada istri, anak-anak, dan orang tua saya di rumah. Jadi, istri saya sedang mempersiapkan sesajen. Namun, kedua WNA tersebut masuk setelah melihat di pekarangan rumah tidak ada orang,” kata Suyadnya saat ditemui di kediamannya di Tibubeneng, Jumat (28/8/2026).
Menurut penuturannya, kedua WNA tersebut kemudian menuju bagian pekarangan yang relatif remang-remang. Di lokasi itu, keduanya diduga melakukan perbuatan asusila sambil berpegangan pada pagar.
Ayah Suyadnya disebut menjadi orang pertama yang melihat aktivitas tersebut. Namun, ia sempat mengira keduanya sedang mencuci kaki setelah datang dari kawasan pantai.
Situasi baru diketahui lebih jelas sekitar 10 menit kemudian ketika suara keributan dari arah pekarangan masih terdengar. Istri Suyadnya yang hendak menghaturkan sesajen kemudian melihat langsung kedua WNA tersebut.
Melihat keduanya dalam posisi yang dianggap tidak wajar, istri Suyadnya segera menghubungi suaminya. Ketika itu Suyadnya sedang berada di depan rumah untuk memasang informasi larangan parkir di trotoar.
Ia mengaku awalnya belum menyadari bahwa aktivitas yang dilakukan kedua WNA tersebut diduga merupakan perbuatan asusila.
Warga Minta Turis Hormati Adat Lokal
Suyadnya menilai keberadaan rumah warga yang berdekatan dengan kawasan wisata dan pusat hiburan menjadi salah satu faktor yang membuat interaksi antara wisatawan dan lingkungan permukiman semakin tinggi.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak dapat menjadi alasan bagi wisatawan untuk mengabaikan norma yang berlaku di tengah masyarakat.
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi wisatawan asing agar lebih memahami batas perilaku ketika berada di lingkungan masyarakat lokal.
“Kami berharap, kejadian ini bisa menjadi bahan pembelajaran bagi wisatawan lainnya,” ucap Suyadnya.
Ia mengaku kecewa karena kejadian serupa menurutnya telah beberapa kali terjadi di sekitar tempat tinggalnya.
“Kami sudah merasa sangat jengkel dengan kejadian seperti ini yang terus berulang-ulang terjadi di tempat kami,” ungkapnya.
Suyadnya menilai situasi tersebut semakin memprihatinkan karena terjadi di lingkungan rumah warga yang pada saat bersamaan sedang menjalankan aktivitas keagamaan.
Ia membandingkan suasana ketika istrinya tengah menyiapkan sesajen dengan tindakan kedua WNA yang diduga melakukan perbuatan asusila tidak jauh dari tempat tersebut.
“Jadi sudah saatnya, karena kami punya bukti dan momen dalam rekamannya seperti kontras. Istri saya dengan sesajen, mereka melakukan hubungan seperti itu di pagar,” ujarnya.
Menurut Suyadnya, penghormatan terhadap norma lokal merupakan bagian penting dari hubungan antara masyarakat setempat dan wisatawan. Ia berharap kejadian tersebut tidak kembali terulang dan wisatawan yang datang ke Bali dapat menjaga sikap, terutama ketika berada di lingkungan permukiman warga.















Komentar