Padahal secara ilmiah, reaktor listrik tidak dapat meledak seperti bom karena tingkat pengayaannya sangat rendah. Desain generasi terbaru pun memakai keselamatan pasif yang dapat menghentikan reaksi otomatis bila sistem utama gagal.
Data global menunjukkan tingkat kematian akibat energi nuklir berada pada sekitar 0,03 jiwa per TWh, lebih rendah dibanding energi surya atau angin. Limbah radioaktif tinggi selama beberapa dekade ini pun hanya setara satu kolam renang Olimpiade dan sebagian besar dapat didaur ulang.
Fakta-fakta ini sering tidak didengar karena ketakutan sudah membentuk ‘sayap lilin’ yang mudah meleleh bahkan sebelum mendekati matahari.
Lilin Ikarus dalam kasus Indonesia adalah kombinasi trauma, informasi yang setengah matang, serta ketidakpercayaan terhadap institusi pengelola energi.
i dalam analisis kebijakan publik, ini disebut risiko persepsi, yaitu ketika persepsi risiko lebih besar daripada risiko aktual. Ia membuat kita berhenti, padahal jalan di depan mungkin aman.
Memilih Jalan: Mengelola Risiko tanpa Terjebak Ketakutan
Perdebatan nuklir sering diperlakukan seperti perdebatan moral, padahal seharusnya menjadi perdebatan teknis yang berbasis data. Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak takut, tetapi bangsa yang tahu mana takut yang rasional dan mana yang tidak.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan dasar teknis. Kita punya sumber daya thorium, lembaga penelitian nuklir, dan regulasi keselamatan yang terus diperbaiki. Proyek-proyek demonstrasi mulai berjalan. Tantangan terbesar justru berada pada kepastian kebijakan dan kejelasan institusi. Masalah terbesar bukan teknologinya, tetapi absennya keputusan yang konsisten.














