Dari Kongres PSI 2025 di Solo: Jokowi Komitmen Dukung Penuh, Kaesang Terpilih Lagi dan Prabowo Peringatkan Soal Serakahnomics

Keserakahan mengacu pada keinginan yang berlebihan dan egois untuk mendapatkan lebih dari yang dibutuhkan atau pantas didapatkan, terutama dalam konteks kekayaan, makanan, atau harta benda. Keserakahan ditandai dengan rasa lapar yang tak terpuaskan akan keuntungan materi dan mengabaikan kebutuhan orang lain.

Mengabaikan kebutuhan orang lain. Bagaimana mungkin bisa mencapai “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” kalau keserakahan yang mengabaikan kebutuhan orang lain telah menjalar menjadi semacam “ideologi” dalam mengatur perekonomian?

Ini semua tercermin dari skala korupsi yang terus menerus meningkat. Dari korupsi ribuan atau ratusan ribu rupiah, meningkat kemampuan nyolongnya jadi jutaan rupiah. Naik kelas lagi jadi ratusan juta bahkan miliaran bilangannya. Terus melaju ke ratusan miliar bahwa ke kelas triliunan.

Sekarang mulai mulai menyentuh bilangan kuadriliun rupiah. Apa itu? Atau berapa itu? Itu basaran uang korupsi. Iya, berapa itu? Ya kuadriliun. Sampai disini kita sama-sama bingung, maklum kita rakyat jelata belum kuat untuk mikir sejauh itu. Memang masih agak susah mencerna angka sebesar itu. Sayangnya itu skala nyolong alias korupsi, bukan prestasi

Serakahnomics. Mula-mula mau bekerja sama, lalu punya orang lain mau dibelinya. Sampai disini masih oke, asal berlandaskan kesepakatan yang adil. Celakanya kalau sampai hak kepemilikan orang lain atau punya negara mau dicuri bahkan dirampas. Kasus-kasus “land-grabbing” (perampasan lahan) oleh si kaya yang di dukung di preman yang di-support si pejabat yang punya kuasa, mereka berkomplot menyedot darah si miskin.

Kita menonton pejabat-pejabat pajak di negeri ini yang flexing dengan kemewahannya, padahal merekalah apparatus negara sebagai garda terdepan dalam skema distribusi kesejahteraan, pola manajemen negara yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita teringat konsep Peter L. Berger dalam bukunya, “The Precarious Vision: A Sociologist Looks at Social Structure”, yang kemudian diterjemahkan oleh A.Rahman Toleng dengan judul “Piramida Kurban Manusia”, yang mengeksplorasi tentang bagaimana struktur sosial, seperti keluarga, agama, dan ekonomi, telah membentuk cara orang berpikir, kemudian berperilaku dan berinteraksi sosial.

Dinamika manusia yang berjuang demi mempertahankan atau mengubah struktur-struktur ini, seringkali dengan cara yang penuh konflik dan pengorbanan. Menyinggung tentang etika politik dan perubahan sosial. Pada intinya tentang bagaimana struktur sosial mempengaruhi kehidupan manusia dan bagaimana manusia berjuang untuk mempertahankan atau mengubah struktur tersebut. Tidak gampang memang, tapi itulah jalan yang sedang ditempuh.

Berkelindannya kepentingan politik (dalam artiannya yang mulia: Bonum Commune, demi kemaslahatan dan kesejahteraan bersama) yang tahapannya lewat VIE 2045, dengan realitas sosiologis seperti digambarkan Peter L. Berger tadi, membuat dua kekuatan besar: Jokowi-PSI bersama duet Prabowo-Gibran memantapkan kolaborasinya di Kongres PSI 2025.

Prabowo dan Jokowi melakukan tiga kali pertemuan di event itu. Sebelum hadir menutup kongres ia menyempatkan mampir ke Jalan Kutai Utara, lalu dilanjutkan sambil menyantap mie-jawa sesaat setelah kongres pada malam yang sama. Kemudian Jokowi mengantar kepulangan Prabowo di bandara Solo. Ketiga pertemuan akrab itu menghapus isu “pecah Kongsi” yang konyol yang sengaja disebarkan para penyinyir yang disponsori antek asing maupun pemain lokal.

Kolaborasi Jokowi-PSI (Kaesang) dengan Prabowo-Gibran inilah yang bakal terus mengikis jebakan (middle-income trap: serakahnomics) sambil menyiapkan generasi emas (makan bergizi gratis dan sekolah rakyat) demi memantapkan langkah membawa Indonesia menjelang visi emasnya di tahun 2045. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Indonesia-centris dalam developmentalismenya.

Memang tidak gampang, musuh dalam selimut di dalam negeri dan kecemburuan negara-negara asing tidak akan tinggal diam.

Solo-Jakarta, Senin-Selasa 21-22 Juli 2025
Andre Vincent Wenas,MM,MBA., Pemerhati Ekonomi Politik, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.