‘Tembok Ratapan Solo’ Viral, Ini Sejarah Tembok Ratapan di Yerusalem

JurnalPatroliNews – SOLO – Istilah “Tembok Ratapan Solo” tengah ramai diperbincangkan warganet Indonesia. Sebutan itu merujuk pada kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Jalan Kutai Utara No 1, Solo, yang belakangan ditandai dengan nama tersebut di Google Maps.

Fenomena ini viral setelah beredar video yang memperlihatkan sejumlah orang datang ke rumah Jokowi untuk berdoa di depan gerbang, bahkan menempelkan tangan ke pagar. Warganet kemudian menilai ada kemiripan dengan tradisi berdoa di Tembok Ratapan di Yerusalem, sehingga istilah tersebut pun menyebar luas di media sosial.

Terlepas dari viralnya sebutan itu, Tembok Ratapan yang asli berada di Kota Tua Yerusalem. Melansir Encyclopaedia Britannica, Tembok Ratapan atau Tembok Barat (Western Wall) merupakan tempat doa dan ziarah yang sangat sakral bagi umat Yahudi.

Struktur ini adalah satu-satunya bagian yang tersisa dari tembok penahan yang dahulu mengelilingi Bukit Bait Suci, lokasi berdirinya Kuil Pertama dan Kuil Kedua Yerusalem—dua bangunan suci dalam tradisi Yahudi kuno. Kuil Pertama dihancurkan oleh bangsa Babilonia pada 587–586 SM. Setelah itu, Kuil Kedua dibangun, namun kembali dihancurkan oleh Romawi pada tahun 70 M.

Keaslian Tembok Barat diperkuat oleh tradisi, catatan sejarah, serta temuan arkeologi yang menyebut bagian dasarnya berasal dari sekitar abad ke-2 SM, sementara bagian atasnya merupakan tambahan dari periode berikutnya.

Dalam sejarah Yahudi, Raja Salomo diyakini membangun Bait Suci pertama sebagai pusat spiritual bangsa Yahudi. Tempat tersebut dipercaya menjadi ruang suci bagi umat untuk menyampaikan doa kepada Tuhan. Dalam doa peresmiannya, Salomo memohon agar Tuhan mendengarkan setiap doa yang dipanjatkan di tempat itu.

Bait Suci Kedua yang dibangun berabad-abad kemudian juga diyakini tetap menjadi tempat bersemayamnya kehadiran Ilahi. Dalam ajaran Midrash disebutkan bahwa Shechinah—kehadiran Tuhan—tidak pernah meninggalkan Tembok Barat. Penekanan pada sisi barat merujuk pada lokasi Ruang Mahakudus yang berada di bagian tersebut.

Kini, Tembok Barat berada dalam satu kompleks yang juga mencakup Kubah Batu dan Masjid Al-Aqsa. Kawasan ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina, mengingat nilai religiusnya bagi umat Yahudi, Muslim, dan Kristen.

Ketegangan atas kendali dan hak akses kawasan tersebut semakin meningkat setelah Israel menguasai sepenuhnya Kota Tua Yerusalem dalam Perang Enam Hari pada Juni 1967.

Viralnya istilah “Tembok Ratapan Solo” pun memantik diskusi publik, bukan hanya soal fenomena media sosial, tetapi juga tentang makna historis dan religius Tembok Barat yang sesungguhnya di Yerusalem.