Heboh Gofar Hilman dan Fenomena Cabul di Media Sosial

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: Reuters/Kacper Pempel

JurnalPatroliNewsJakarta – Viral masalah pelecehan seksual yang menyeret Gofar Hilman membuat netizen riuh. Seperti apa pandangan psikolog mengenai isu serupa di mana seseorang menuliskan cerita atau berbagi konten yang bernada seksual?

Nadya Puspita Ekawardhani, MPsi, Psikolog dari Personal Growth memberikan pandangannya. Menurutnya, pada umumnya seseorang membagikan berbagai macam isu di media sosial agar dapat dilihat oleh masyarakat atau banyak orang, termasuk bicara cabul yang bertema seksual

Orang atau seleb yang menceritakan secara terbuka terkait topik yang berkaitan dengan seks mungkin memiliki tujuan tersendiri. Motifnya seperti untuk tujuan edukasi, mengklarifikasi informasi, atau bicara cabul untuk mencari perhatian masyarakat semata.

“Sehingga, tidak dapat digeneralisasikan untuk semua kasus, dan perlu dipastikan kembali dengan melihat niat awal dari orang yang bersangkutan,” jelasnya melalui pesan singkat, Jumat (11/6/2021).

Lebih lanjut, penggunaan bahasa dan perspektif dari orang atau seleb yang memberikan informasi adalah peran besar dalam mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai topik yang diangkat. Makna yang diambil tiap orang bisa jadi berbeda, apalagi jika terkait seksualitas.

“Pengaruh psikologis yang timbul tergantung dari masing-masing pembaca/ penonton dalam menyikapi topik tersebut, serta membutuhkan cara pandang dan wawasan yang luas sebagai pembaca/ penonton,” tuturnya.

Cara pandang yang luas ini diharapkan selalu diterapkan agar pembaca dapat mengolah informasi yang diterima. Dengan mencoba melihat sesuatu dari berbagai perspektif, pembaca pun dapat tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan soal cabul atau tidak cabul.

Kemampuan seseorang di dalam menyikapi konten tersebut ternyata juga dipengaruhi oleh latar belakang masing-masing. Latar belakang tersebut antara lain latar belakang keluarga, budaya, sosial-ekonomi, hingga pengalaman pribadi. Dengan demikian, antara satu dengan yang lain bisa sangat berbeda menyikapi informasi yang diterima.

“Seberapa besar pengaruhnya kembali lagi pada kematangan masing-masing individu dan lingkungan sekitarnya,” pungkas Nadya

( dtk )

Pos terkait