Masyarakat Tetap Tenang, BMKG Catat : 48 Kali Gempa Bumi di Jabar 74% Terjadi di Laut, Waspada!

  • Whatsapp
Ilustrasi/Net

JurnalPatroliNewsBandung – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung mencatat 48 kali kejadian gempa bumi selama Agustus 2021. Dari jumlah itu, sekitar 74% terjadi di laut akibat aktivitas sesar di dasar laut.

Kepala BMKG Stasiun Bandung, Teguh Rahayu mengatakan, melihat lokasi pusat kejadian gempa bumi lebih dari separuhnya terjadi di laut, sehingga wilayah pantai selatan Jawa Barat berpotensi terjadinya tsunami yang diakibatkan oleh gempa bumi. Kendati begitu, puluhan gempa yang terjadi dengan kekuatan di bawah 4 skala richter.

BACA JUGA :

“Dari peta distribusi epicenter gempa bumi periode bulan Agustus 2021, terlihat 36 kejadian gempabumi terjadi dilaut dan tersebar di selatan Pulau Jawa, sebagai akibat dari subduksi pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia,” kata dia, Minggu (5/9/2021).

Sedangkan 12 gempabumi terjadi didarat dengan kedalaman dangkal sebagai aktivitas sesar lokal. Sementara gempa bumi terjadi di darat yang disebabkan oleh aktivitas sesar ada sebanyak delapan kejadian. Satu diantara dirasakan akibat aktivitas sesar Cimandiri. Ini menandakan bahwa sesar yang ada di wilayah Jawa Barat adalah sesar aktif yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.

Jumlah kejadian gempa tertinggi terjadi pada tanggal 04 Agustus 2021 dengan total sebanyak 6 kejadian gempabumi. Kedalaman gempabumi yang terjadi bervariasi pada rentang 1 hingga 129 km. Sedangkan untuk magnitudo gempabumi terbesar yang teracatat adalah 4,9 dan Magnitudo terkecil yang tercatat adalah 1,6.

Sepanjang Agustus 2021 terdapat satu rangkaian gempa Doublet yang dirasakan. Gempa Doublet merupakan rangkaian gempa yang kekuatannya hampir sama dalam waktu dan lokasi yang berdekatan. Gempa doublet terjadi pada tanggal 07 Agustus 2021. Gempa pertama terjadi pukul 20.17 WIB dengan magnitude sebesar 4,1 yang berpusat pada koordinat 7,86 Lintang Selatan dan 107,27 Bujur Timur pada kedalaman 26 Km.

Sedangkan gempa kedua terjadi pukul 20:11 WIB dengan magnitude sebesar 4,0 yang berpusat pada koordinat 7,85 Lintang Selatan dan 107,28 Bujur Timur pada kedalaman 25 Km. Gempa Doublet tersebut dirasakan di Tasikmalaya sebesar III MMI dan di Cikelet, Cikajang, Sayangheulang, Pangalengan, Singajaya, serta wilayah Bungbulan sebesar II MMI.

Selain itu, terdapat juga lima kali kejadian gempabumi dirasakan pada periode Bulan Agustus 2021. Yang pertama yakni gempabumi pada 04 Agustus 2021 pukul 05.41 WIB, yang berpusat 6,92 Lintang Selatan dan 107,02 Bujur Timur pada kedalaman 4 Km. Gempa berkekuatan 2,4 tersebut dirasakan di Cireunghas, Kebonpedes sebesar II MMI.

Kedua, gempabumi berkekuatan sebesar 4,1 yang berpusat pada 7,77 Lintang Selatan dan 107,34 Bujur Timur pada kedalaman 33 Km, yang terjadi pada 08 Agustus 2021 pukul 17.30 WIB. Gempa tersebut dirasakan di Pamengpeuk, Cibalong, Singajaya, Cisompet, Sodonghilir, Pangandaran, Ciamis sebesar II MMI.

Ketiga, gempabumi yang berpusat 8,49 Lintang Selatan dan 108,98 Bujur Timur pada kedalaman 53 Km, yang terjadi pada 09 Agustus 2021 pukul 21.36 WIB. Gempa berkekuatan 4,9 tersebut dirasakan di Cilacap, Pangandaran, Banjar, Ciamis, Banyumas, dan Karangnunggal sebesar III MMI serta di Garut, Kebumen, Purwokerto, Yogyakarta, dan Pacitan sebesar II MMI.

Gempabumi keempat terjadi pada 17 Agustus 2021 pukul 11.49 WIB yang berpusat 8,15 Lintang Selatan dan 107,64 Bujur Timur pada kedalaman 12 Km. Gempa berkekuatan 4,5 tersebut dirasakan di Pameungpeuk, Cipatujah, Karangnunggal, Cisompet, Bangbajang sebesar III MMI dan di Ciwidey sebesar II MMI.

Terakhir, gempabumi dirasakan dengan kekuatan sebesar 4,9 terjadi pada tanggal 23 Agustus 2021 pukul 04.13 WIB yang berpusat 8,32 Lintang Selatan dan 107,58 Bujur Timur dengan kedalaman 1 Km. Gempa tersebut dirasakan di wilayah Pangandaran, Cijulang, Tasikmalaya, Pameungpeuk, Ciamis, Bungbulang, Cisompet, Ciparanti, Cikalong dan Cijagra sebesar III MMI

“BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Serta menghindari bangunan-bangunan retak atau rusak yang diakibatkan oleh gempa,” imbuh dia.

(*/lk)

Pos terkait