Dari Kursi Kekuasaan ke Sudut Kesepian: Pelajaran Abadi tentang Setia dan Pura-Pura

JurnalPatroliNwes – Jakarta – Kekuasaan itu laksana panggung sandiwara: saat lampu sorot menyala, semua orang berlomba-lomba tampil; namun saat tirai ditutup, aktor utama pun bisa dilupakan begitu saja. Inilah wajah asli dari dunia kekuasaan—manis di awal, getir di akhir.

Fenomena ini bisa kita lihat jelas dari transisi kekuasaan antara Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi), dan penerusnya, Prabowo Subianto. Keduanya memberi gambaran utuh tentang bagaimana loyalitas di sekitar kekuasaan sering kali tak lebih dari kepura-puraan yang dibungkus rapi.

Dulu, Jokowi dielu-elukan sebagai pemimpin penuh karisma. Segala ucapannya dikutip, kebijakannya dielu-elukan, dan setiap langkahnya mendapat tepuk tangan. Namun setelah masa jabatannya usai, suasana berubah. Ia kini lebih banyak disorot karena kontroversi, bukan pujian. Kasus soal ijazah menjadi sorotan baru yang menggantikan masa-masa kejayaannya.

Sementara itu, Prabowo mengalami transformasi yang kontras. Ia yang dulunya penuh dengan kontroversi dan tak lepas dari kritik keras, kini menjadi pusat perhatian—bukan karena serangan, tetapi karena pujian. Mereka yang dulu mencibirnya, kini berusaha mendekat, menyanjung, bahkan mencari celah untuk menumpang nama di lingkar kekuasaan.