JurnalPatroliNews – Jakarta – Gelombang dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju dua periode terus menguat dari berbagai kalangan, mulai dari elite partai politik, tokoh publik hingga relawan. Fenomena ini dinilai memicu dinamika politik yang mulai menghangat, meski kontestasi Pilpres 2029 masih cukup jauh.
Pengamat politik Nurul Fatta mengingatkan situasi tersebut perlu disikapi secara bijak, terlebih bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan. Ia menilai elite politik seharusnya tidak larut dalam euforia dukungan yang berpotensi menaikkan tensi politik nasional.
“Terpenting hari ini, publik membutuhkan ketenangan. Apalagi masyarakat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa. Situasi seperti ini, elite politik seharusnya mulai menurunkan tensi, menjaga higienitas wacana, dan menghindari manuver yang berpotensi memancing kegaduhan,” ujar Nurul, Kamis (19/2/2026).
Menurut dia, ruang publik sebaiknya tidak dipenuhi manuver politik yang terlalu dini ketika masyarakat tengah fokus menjalankan ibadah dan menjaga stabilitas kehidupan sehari-hari.
“Situasi politik seharusnya ikut berpuasa, seperti menahan ego, menahan ambisi, dan tidak memperkeruh suasana ketika rakyat sedang fokus pada stabilitas hidupnya masing-masing,” tegasnya.
Ia menambahkan, dinamika dukungan dalam sistem demokrasi merupakan hal yang wajar. Namun, pengelolaannya harus tetap mempertimbangkan kondisi sosial masyarakat agar tidak memicu polarisasi maupun kegaduhan yang tidak perlu, khususnya pada momentum yang menuntut suasana tenang dan kebersamaan.














