JurnalPatroliNews – JAKARTA – Partai Gerindra merespons kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait tingginya intensitas kunjungan kerja luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Gerindra menegaskan seluruh lawatan Presiden dilakukan dalam rangka menjalankan misi negara dan memperjuangkan kepentingan nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Juru Bicara Partai Gerindra, Bahtra Banong, mengatakan kunjungan luar negeri Presiden tidak dapat dipandang sebagai aktivitas personal, melainkan bagian dari diplomasi antarnegara yang memiliki tujuan strategis bagi Indonesia.
“Kritik Pak Dino Patti Djalal mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo perlu dilihat dalam konteks diplomasi negara. Presiden membawa misi negara, bukan melakukan perjalanan pribadi,” kata Bahtra kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Selasa (2/6/2026).
Bahtra yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR RI menjelaskan bahwa seluruh agenda kunjungan Presiden berlangsung secara terbuka dan dapat diakses masyarakat melalui berbagai kanal informasi resmi pemerintah, termasuk siaran yang ditayangkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Menurutnya, keterbukaan tersebut menjadi bukti bahwa setiap lawatan Presiden dilakukan dalam rangka menjalankan tugas kenegaraan sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan internasional.
“Setiap kunjungan luar negeri Presiden melibatkan delegasi lintas kementerian, lembaga, BUMN, serta pelaku usaha,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai agenda strategis dijalankan secara paralel dalam setiap kunjungan kenegaraan. Agenda tersebut mencakup pembahasan kerja sama investasi, perdagangan, energi, pertahanan, hingga pengembangan teknologi yang dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional.
Menurut Bahtra, pendekatan diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo tidak hanya berorientasi pada hubungan politik antarnegara, tetapi juga diarahkan untuk membuka peluang kerja sama yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Indonesia.
“Agenda-agenda tersebut merupakan bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan nasional dan memperkuat kerja sama strategis Indonesia dengan berbagai negara,” tegasnya.
Pernyataan Gerindra tersebut muncul di tengah perdebatan publik mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo sejak awal masa pemerintahannya. Pemerintah sebelumnya menegaskan bahwa diplomasi aktif menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah tantangan geopolitik global, sekaligus menarik investasi dan memperluas kerja sama ekonomi dengan negara-negara mitra.
Gerindra menilai keberhasilan diplomasi tidak dapat diukur hanya dari jumlah perjalanan yang dilakukan, tetapi juga dari hasil konkret yang diperoleh Indonesia melalui berbagai kesepakatan dan kerja sama yang dibangun dalam setiap kunjungan kenegaraan.














