Ketua JMSI Tegaskan Kesesuaian Gagasan Peradaban Global dengan Semangat Kebhinekaan Indonesia

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, menilai bahwa konsep Global Civilization Initiative yang digaungkan sebagai strategi diplomasi terbaru oleh Tiongkok selaras dengan filosofi kebangsaan Indonesia.

Hal itu disampaikan Teguh saat menjadi pembicara dalam forum internasional wartawan “Belt and Road Journalists Forum” yang berlangsung di Ganzhou, Provinsi Jiangxi, Tiongkok, pada Jumat, 18 Juli 2025.

Teguh menjelaskan bahwa semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika”, yang bermakna “berbeda-beda tetapi tetap satu”, mencerminkan akar peradaban Indonesia yang kaya dan majemuk.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara yang tumbuh dari warisan ratusan kerajaan kuno dan pengalaman panjang di bawah kolonialisme, yang kemudian membentuk fondasi kuat bagi persatuan bangsa.

Dalam sesi diskusi bertajuk “Innovating Cross-Cultural Narratives and the Media’s Duty under the Global Civilization Initiative” yang dimoderatori oleh Prof. Zheng Chanzhong, Teguh menyoroti bahwa kunci dari nasionalisme Indonesia adalah kemauan untuk mengadopsi unsur-unsur budaya yang sudah lebih dahulu ada dan mengintegrasikannya menjadi bagian dari jati diri bangsa.

Ia mencontohkan kekayaan budaya Tionghoa di Indonesia, khususnya di Medan—kota tempat ia lahir dan besar yang memiliki komunitas Tionghoa yang besar dan berpengaruh dalam kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.

Namun demikian, Teguh juga menyinggung kekhawatiran atas maraknya pendekatan jurnalistik yang agresif dan penuh konflik, yang ia istilahkan sebagai penggunaan “kacamata tempur”. Menurutnya, gaya peliputan semacam itu cenderung mengarahkan media pada pandangan bahwa perbedaan antarkultur dan antarnegara harus diselesaikan lewat dominasi, bukan dialog.

Ia menambahkan, kondisi ini diperburuk oleh dominasi konten dari media sosial yang tidak bertanggung jawab, yang menggerus ruang bagi jurnalisme yang kredibel dan berkualitas.

Sebagai penutup, Teguh mengajak seluruh jurnalis dan peserta forum untuk menjadikan jaringan Belt and Road Journalists Network sebagai wahana memperkuat solidaritas lintas bangsa, saling memahami perbedaan budaya, serta memperjuangkan harmoni dalam keberagaman global.