JurnalPatroliNews – Jakarta – PDI Perjuangan menilai aparat kepolisian seharusnya tidak menemui hambatan berarti dalam mengungkap rangkaian teror yang belakangan menyasar konten kreator dan aktivis. Serangkaian aksi intimidasi tersebut dipandang sebagai ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi di ruang publik.
Pandangan itu disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan, Andreas Hugo Pareira, saat ditemui awak media di Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2025. Ia menegaskan bahwa negara tidak boleh absen ketika warga yang menyampaikan kritik justru menjadi sasaran teror.
“Teror semacam ini merupakan upaya nyata untuk membungkam suara-suara kritis. Negara, melalui aparat penegak hukum, wajib hadir untuk melindungi, mengusut tuntas, dan mengungkap siapa dalang di balik aksi tersebut,” kata Andreas.
Sebagai Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas menilai kemampuan teknis dan sumber daya aparat penegak hukum saat ini seharusnya memadai untuk menelusuri dan menangkap pelaku. Dukungan teknologi yang semakin canggih dinilai dapat mempercepat proses penyelidikan.
“Dengan peralatan dan kapasitas personel yang ada sekarang, seharusnya pengungkapan kasus-kasus teror bukan perkara sulit,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya proses penegakan hukum yang terbuka dan sungguh-sungguh. Menurutnya, ketidakjelasan penanganan kasus justru berpotensi menimbulkan spekulasi dan kecurigaan di tengah masyarakat.
“Jika dibiarkan berlarut tanpa kejelasan, bisa muncul anggapan seolah-olah aparat terlibat atau membiarkan teror ini terjadi. Hal tersebut sangat berbahaya bagi kepercayaan publik,” tambahnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, aksi teror dilaporkan menimpa sejumlah figur publik yang dikenal aktif menyuarakan kritik. Salah satunya dialami konten kreator Ramond Dony Adam atau DJ Donny. Kediamannya dilempari bom molotov, disertai kiriman bangkai ayam yang telah dipotong-potong serta pesan berisi ancaman pembunuhan. Teror serupa juga dialami aktivis Greenpeace, Iqbal Damanik.
Kasus intimidasi juga menimpa pegiat media sosial Sherlya Annavita Rahmi, yang menerima paket telur busuk, kendaraan pribadinya dicoret-coret, serta pesan bernada ancaman. Sebelumnya, pegiat media sosial Virdian juga melaporkan perusakan mobil oleh orang tak dikenal.
Bahkan pada periode sebelumnya, jurnalis Tempo Francisca Christy Rosana atau Cica pernah menerima paket berisi kepala babi yang diduga sebagai bentuk intimidasi.
Atas insiden yang dialaminya, DJ Donny telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Metro Jaya. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/9545/XII/2025/SPKT.
“Saya tidak terlalu mempersoalkan kiriman bangkai ayam. Tapi sekitar pukul tiga dini hari, rekaman CCTV menunjukkan ada orang melempar bom molotov ke rumah saya. Beruntung api tidak sempat membesar,” ujar DJ Donny saat memberikan keterangan di Polda Metro Jaya, Rabu, 31 Desember 2025.














