Merajut Harapan dengan Sasirangan, Kisah Humanis Persit yang Menjaga Warisan dan Menguatkan Kemandirian

Kehadiran Sasirangan Kayuh Baimbai dalam ajang Persit Bisa II menjadi bukti bahwa karya tradisional dapat tampil di ruang yang lebih luas, menjangkau lebih banyak orang, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Selatan. Kehadiran booth tersebut tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga sarana memperlihatkan bahwa kreativitas anggota Persit dapat bertumbuh menjadi kekuatan ekonomi keluarga tanpa melepaskan akar tradisi.

Kisah Ny. Eka menjadi gambaran humanis tentang bagaimana pemberdayaan perempuan dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Dari keterampilan yang diwariskan keluarga, lahir kreativitas. Dari kreativitas, tumbuh kemandirian. Dan dari dukungan organisasi, tumbuh keberanian untuk melangkah lebih jauh. Dalam konteks itulah Persit menunjukkan perannya, bukan semata sebagai pendamping, melainkan juga sebagai penggerak perubahan yang memberi nilai tambah bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Pada akhirnya, Sasirangan bukan sekadar kain. Ia adalah warisan budaya, sumber inspirasi, sekaligus harapan yang dirajut dengan tangan-tangan telaten. Melalui karya seperti yang dilakukan Ny. Eka Burhannudin, tradisi tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, melainkan terus hidup, berkembang, dan memberi makna bagi masa kini.