Perbatasan Jadi Titik Perhatian, Kasad Maruli Tekankan Sishankamrata kepada Calon Dansat

JurnalPatroliNews | Jakarta – Tantangan pertahanan di wilayah perbatasan tidak cukup dijawab dengan kekuatan alat utama sistem senjata (Alutsista). Kesiapan satuan, kemampuan membaca ancaman, dukungan logistik, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun pertahanan negara.

Pesan tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., saat memberikan pengarahan kepada 412 calon Komandan Satuan (Dansat) TNI AD di Aula A.H. Nasution, Mabesad, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Dalam pengarahan itu, Kasad menempatkan penguatan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) sebagai salah satu hal yang perlu dipahami calon Dansat, terutama bagi satuan yang nantinya menghadapi karakteristik wilayah dan ancaman yang berbeda-beda.

Menurut Maruli, konsep Sishankamrata yang dibangun para pendahulu bangsa dan sesepuh TNI masih memiliki relevansi dalam menghadapi perkembangan lingkungan strategis saat ini.

Terlebih di kawasan perbatasan, pertahanan negara tidak hanya bergantung pada kemampuan militer. Kesiapan dan kesadaran masyarakat juga menjadi bagian yang perlu diperhitungkan dalam membangun daya tangkal di wilayah tersebut.

“Ancaman yang ada dan yang akan datang harus kita pahami. Apa ancamannya, itu yang dilatihkan. Alat-alat apa saja yang dipersiapkan, kemudian konsep operasinya, termasuk kemampuan satuan yang dikerahkan dan bagaimana logistiknya,” ujar Kasad.

Pahami Ancaman Sebelum Menyiapkan Satuan

Kasad mengingatkan bahwa setiap satuan memiliki karakteristik tugas dan wilayah yang berbeda. Karena itu, pola kesiapan tidak dapat dibangun dengan pendekatan yang seragam.

Kemungkinan menghadapi perang gerilya, kondisi medan yang sulit, hingga keterbatasan akses menuju daerah operasi menjadi bagian dari lingkungan yang harus dipahami oleh calon Dansat.

Artinya, seorang komandan dituntut tidak hanya memahami kemampuan personelnya, tetapi juga mampu membaca lingkungan strategis di sekitar wilayah penugasan.

Kesiapan operasional, kata Kasad, harus dibangun berdasarkan jenis ancaman yang mungkin dihadapi. Dari pemetaan ancaman tersebut kemudian ditentukan bentuk latihan, kebutuhan Alutsista, konsep operasi, kemampuan satuan hingga dukungan logistik.

Pendekatan itu sekaligus menempatkan komandan satuan sebagai sosok yang harus mampu menerjemahkan kondisi lapangan menjadi kesiapan nyata satuannya.

Komandan Dituntut Tidak Terjebak Rutinitas

Selain persoalan operasional, Maruli juga mendorong para calon Dansat untuk membangun budaya inovasi di lingkungan satuan.

Komandan tidak cukup hanya menjalankan rutinitas dan pola kerja yang sudah berjalan. Diperlukan gagasan baru dan pemikiran kreatif agar satuan terus berkembang serta mampu menghadapi perubahan situasi.

Dalam konteks tersebut, kepemimpinan Dansat tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memberikan perintah, tetapi juga bagaimana membangun satuan yang adaptif terhadap perkembangan tantangan.

Kasad juga memberikan perhatian terhadap kondisi prajurit, khususnya mereka yang melaksanakan tugas operasi di wilayah dengan tingkat kesulitan tinggi.

Kesiapan personel harus berjalan bersama dengan pemanfaatan Alutsista dan dukungan logistik secara efektif serta efisien. Hal tersebut menjadi semakin penting bagi prajurit yang bertugas di wilayah sulit dijangkau, termasuk dalam pelaksanaan tugas dan dukungan kepada masyarakat di Papua.

Kepemimpinan Menjadi Penentu Kesiapan Satuan

Pengarahan kepada ratusan calon Dansat tersebut pada akhirnya bukan sekadar pembekalan menjelang penempatan jabatan. Ada tuntutan agar para calon komandan mampu menerjemahkan amanah kepemimpinan ke dalam pembangunan satuan.

Kasad berharap para calon Dansat dapat membangun satuan yang disiplin, solid, profesional, adaptif dan inovatif.

Satuan yang memiliki karakter tersebut diharapkan mampu menjalankan tugas pokok secara optimal sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat di wilayah penugasannya.

Dari 412 calon Dansat yang mengikuti pengarahan, sebanyak 33 orang merupakan calon Dansat Golongan IV atau Kolonel, 190 orang Golongan V atau Letkol, dan 52 orang Golongan VI atau Mayor.

Selain itu, terdapat 19 calon Komandan Brigif Teritorial Pembangunan (Brigif TP) Tahap III, IV dan V, serta 113 calon Komandan Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) Tahap III, IV dan V.

Dengan komposisi tersebut, pengarahan Kasad menjadi bagian dari pembekalan kepemimpinan bagi para calon komandan yang akan menghadapi beragam karakter tugas. Penekanannya jelas: memahami ancaman, menyiapkan satuan sesuai kebutuhan, memperkuat kemampuan prajurit, sekaligus membangun hubungan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi TNI AD, penguatan Sishankamrata bukan hanya persoalan menambah kekuatan tempur, tetapi juga memastikan setiap unsur pertahanan memahami peran dan tanggung jawabnya sesuai karakter wilayah serta ancaman yang dihadapi.

Komentar