Bukan Sekadar Alutsista, Budhi Achmadi Bongkar Wajah TNI yang Dibutuhkan Indonesia 2045

JurnalPatroliNews | Jakarta — Memasuki usia ke-81, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dinilai menghadapi kebutuhan untuk memperbarui cara pandang terhadap profesionalisme militer. Perubahan karakter ancaman, percepatan teknologi dan kompleksitas lingkungan strategis membuat kemampuan pertahanan tidak lagi cukup bertumpu pada kekuatan tempur konvensional.

Pandangan itu disampaikan Marsda TNI Dr. Budhi Achmadi dalam refleksinya memperingati HUT ke-81 TNI, Senin (5/10/2026). Dalam tulisannya, Budhi menilai profesionalisme TNI harus terus berkembang tanpa meninggalkan fondasi utama berupa disiplin, loyalitas, kepemimpinan, hierarki komando, kemampuan tempur dan pengabdian kepada bangsa serta negara.

Menurut Budhi, perjalanan TNI selama lebih dari delapan dekade menunjukkan bahwa institusi pertahanan selalu berhadapan dengan perubahan zaman. Karena itu, profesionalisme tidak seharusnya diperlakukan sebagai konsep yang statis.

“Evolusi profesionalisme TNI bukan berarti meninggalkan fondasi yang telah dibangun selama puluhan tahun, tetapi menyempurnakannya agar tetap relevan dengan tuntutan zaman,” tulis Budhi.

Dari Old Professionalism ke New Professionalism

Dalam refleksinya, Budhi menggunakan perspektif pemikiran Alfred Stepan mengenai old professionalism dan new professionalism untuk membaca perubahan peran militer.

Paradigma profesionalisme lama lebih menitikberatkan militer pada keahlian perang dan pertahanan eksternal. Sementara pendekatan baru melihat ancaman negara semakin kompleks dan dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk ancaman nonmiliter. Pemikiran tersebut sebelumnya juga digunakan Budhi dalam membahas kebutuhan adaptasi profesionalisme militer menghadapi ancaman multidimensi.

Dalam konteks Indonesia, perubahan tersebut terlihat dari semakin luasnya spektrum tantangan yang harus dipahami prajurit. Konflik dan gangguan terhadap keamanan dapat terjadi secara simultan di darat, laut, udara, siber, ruang elektromagnetik, ruang angkasa hingga ruang informasi.

Ancaman juga dapat memadukan instrumen militer dan nonmiliter, mulai dari teknologi, informasi, ekonomi, energi, pangan hingga perubahan iklim. Karena itu, menurut Budhi, prajurit masa depan membutuhkan cakrawala pengetahuan yang lebih luas.

Prajurit Tidak Cukup Hanya Jago Bertempur

Budhi menilai kemampuan tempur tetap menjadi fondasi utama. Namun, prajurit modern harus mempunyai kompetensi yang melampaui kemampuan teknis medan perang.

Perwira dan prajurit perlu memahami geopolitik, geostrategi, teknologi, ekonomi pertahanan, diplomasi, kecerdasan buatan, keamanan siber, ruang angkasa, energi, perubahan iklim hingga dinamika sosial.

Pemahaman lintas disiplin tersebut bukan berarti TNI mengambil alih fungsi lembaga sipil. Sebaliknya, kemampuan memahami berbagai persoalan strategis diperlukan agar TNI dapat menjalankan tugas pertahanan secara lebih tepat dalam lingkungan yang semakin kompleks.

Pandangan itu sejalan dengan pemikiran Budhi sebelumnya bahwa keterlibatan TNI dalam mendukung pembangunan harus tetap dilaksanakan secara profesional, proporsional dan berada dalam koridor demokrasi serta tidak menggantikan fungsi institusi sipil.

Modernisasi Tidak Boleh Berhenti pada Alutsista

Salah satu pesan utama Budhi adalah modernisasi TNI tidak boleh diterjemahkan sekadar sebagai pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Modernisasi harus berjalan bersamaan pada manusia, organisasi, doktrin, pendidikan, teknologi dan pola pikir.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan organisasi pertahanan yang mampu menjangkau wilayah luas dan memiliki karakter geografis serta sosial yang berbeda-beda.

Dalam konteks tersebut, komando kewilayahan menurut Budhi tetap memiliki nilai strategis. Keberadaannya dapat mendukung deteksi dini, kesiapsiagaan menghadapi bencana, komunikasi sosial dan koordinasi lintas lembaga sesuai tugas serta kewenangan masing-masing.

Namun, pengembangan komando kewilayahan juga harus disertai organisasi yang adaptif, pemanfaatan teknologi dan kemampuan merespons perubahan lingkungan secara cepat.

Dari Platform Centric ke Network Centric

Budhi mengingatkan bahwa keunggulan pertahanan modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh siapa yang mempunyai platform senjata paling canggih.

Pesawat tempur, kapal perang, kapal selam, radar, satelit, drone dan sistem pertahanan udara memang tetap penting. Namun, efektivitasnya sangat ditentukan kemampuan mengintegrasikan manusia, informasi, doktrin, organisasi, teknologi dan alutsista.

Karena itu, ia mendorong pergeseran dari pendekatan platform centric menuju network centric, dari kemampuan yang berjalan sendiri-sendiri menuju jointness, serta dari operasi satu domain menuju kemampuan multi-domain operations.

Dengan pendekatan tersebut, setiap matra tidak lagi dipandang sebagai kekuatan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu jaringan pertahanan nasional yang saling terhubung.

Gagasan Warrior-Thinker

Perubahan teknologi juga menuntut perubahan kualitas sumber daya manusia.

Budhi memperkenalkan gagasan warrior-thinker, yakni prajurit yang tetap memiliki keberanian dan ketangguhan fisik, tetapi sekaligus mampu berpikir kritis, memahami teknologi dan mengambil keputusan strategis dalam situasi penuh ketidakpastian.

Prajurit dituntut mampu membaca data, perwira memahami perkembangan teknologi, sementara komandan harus memiliki kemampuan membaca situasi yang jauh lebih kompleks dibanding era sebelumnya.

Dalam kerangka tersebut, kecerdasan buatan bukan dipandang sebagai pengganti manusia. Teknologi justru harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kualitas keputusan manusia.

“Pada akhirnya, investasi terbesar dalam modernisasi pertahanan tetap berada pada manusia TNI,” tegas Budhi.

Lima Keunggulan Menuju TNI 2045

Untuk menghadapi perubahan karakter peperangan menuju Indonesia Emas 2045, Budhi menawarkan lima bidang keunggulan yang perlu diperkuat.

Pertama, military excellence, yakni keunggulan kemampuan tempur. Kedua, strategic excellence, berupa kemampuan membaca dan mengantisipasi lingkungan strategis.

Ketiga, technological excellence, yaitu penguasaan teknologi pertahanan. Keempat, joint and multi-domain capability, berupa kemampuan mengintegrasikan kekuatan seluruh matra dan berbagai domain operasi.

Kelima, human capital excellence, yakni pembangunan prajurit yang berpendidikan, adaptif, inovatif dan berintegritas.

Lima aspek tersebut, menurut Budhi, bukanlah pengganti profesionalisme TNI yang telah dibangun selama puluhan tahun. Justru sebaliknya, semuanya merupakan pengembangan dari fondasi lama agar tetap relevan menghadapi masa depan.

Pertahanan Menjadi Penopang Pembangunan

Budhi juga menempatkan keamanan sebagai salah satu prasyarat pembangunan nasional.

Stabilitas pertahanan yang kuat dapat menciptakan ruang yang lebih kondusif bagi investasi, konektivitas, ketahanan pangan dan energi, pengelolaan sumber daya alam serta peningkatan kesejahteraan.

Karena itu, ia melihat sinergi antara TNI, pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan akademisi sebagai kebutuhan strategis dalam menghadapi ancaman multidimensi. Namun, sinergi tersebut tetap harus berjalan dalam koridor demokrasi dan sesuai pembagian fungsi kelembagaan.

Menuju TNI 2045

Budhi melihat Indonesia memiliki modal penting untuk memasuki tahap baru profesionalisme TNI: sejarah panjang, pengalaman operasional dan sumber daya manusia.

Tantangannya adalah mengubah modal tersebut menjadi kekuatan pertahanan yang semakin modern, terintegrasi dan adaptif.

Perkembangan seperti kecerdasan buatan, autonomous weapons, drone swarm, peperangan siber, peperangan ruang angkasa, teknologi kuantum, senjata hipersonik dan sistem sensor generasi baru diperkirakan semakin memengaruhi wajah konflik masa depan. Karena itu, persiapan menuju 2045 membutuhkan investasi jangka panjang pada manusia dan teknologi secara bersamaan.

Pada akhirnya, refleksi Budhi membawa satu pesan besar dalam peringatan HUT ke-81 TNI: modernisasi pertahanan bukan sekadar mengganti senjata lama dengan teknologi baru.

Modernisasi berarti membangun prajurit yang lebih cerdas, organisasi yang lebih adaptif, doktrin yang relevan, teknologi yang dikuasai sendiri, serta kemampuan mengintegrasikan seluruh kekuatan pertahanan.

Dari prajurit yang menguasai taktik menuju prajurit yang memahami sistem. Dari penguasaan platform menuju penguasaan jaringan. Dari single domain menuju multi-domain. Dan dari sekadar warrior menuju warrior-thinker.

Itulah tantangan profesionalisme TNI yang diproyeksikan Budhi untuk menghadapi Indonesia menuju 2045.

Komentar