JurnalPatroliNews – Jakarta – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni melaporkan penurunan signifikan jumlah titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Hingga Rabu (23/7), jumlah hotspot menurun dari 1.300 menjadi hanya 116 titik.
“Dari tanggal 16 lalu masih terpantau 1.300 titik api, dan hari ini turun menjadi 116. Ini menunjukkan tren positif,” ujar Raja Juli dalam keterangan resmi yang disampaikan Kamis (24/7).
Ia menyampaikan capaian ini tak lepas dari sinergi antara berbagai elemen, seperti TNI, Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Manggala Agni. Selain itu, dukungan dari udara melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga turut berperan besar dalam upaya penanganan.
“Bukti nyata kerja keras teman-teman di lapangan, baik dari tim darat maupun lewat modifikasi cuaca. Meski demikian, upaya ini masih perlu ditingkatkan,” tegasnya.
Raja Juli menambahkan, pemerintah akan memperkuat armada pemadam, termasuk penambahan helikopter OMC dan pesawat water bombing. Saat ini sudah tersedia dua helikopter OMC dan tiga unit water bombing. Dalam waktu dekat, keduanya akan ditambah masing-masing menjadi tiga dan lima unit.
“Langkah percepatan juga dilakukan lewat pengerahan pasukan darat tambahan, khususnya untuk wilayah yang rawan seperti Rokan Hulu dan Rokan Hilir,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan. Raja Juli mengajak publik mengingat kembali krisis kabut asap beberapa tahun lalu yang menyebabkan gangguan kesehatan, penutupan sekolah, dan lumpuhnya aktivitas penerbangan.
“Kita pernah alami saat asap mengepung Riau. Sekolah ditutup, warga sesak napas, dan bandara lumpuh. Jangan sampai itu terulang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Juli 2025, pihak berwenang telah menetapkan 44 orang sebagai tersangka dalam kasus karhutla di Riau.
“Sudah ada penindakan hukum. Total 44 pelaku ditetapkan tersangka. Harapannya ini menjadi pelajaran dan membuat masyarakat jera,” kata Suharyanto.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar kebakaran terjadi akibat ulah manusia, bukan semata karena faktor cuaca atau alam.
“Penyebab utama adalah tindakan pembakaran lahan oleh oknum. Ini bukan fenomena alam semata, tapi karena ulah manusia,” pungkasnya.














