Pemimpin Hizbullah Tegas Tolak Desakan Pelucutan Senjata, Sebut Hanya Untungkan Israel

JurnalPatroliNews – Beirut – Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sheikh Naim Qassem, menyampaikan penolakannya terhadap tuntutan internasional yang meminta kelompoknya menyerahkan seluruh persenjataan. Dalam pernyataan yang disampaikan melalui siaran televisi pada Rabu (30/7/2025), Qassem menilai permintaan itu sebagai langkah strategis yang justru menguntungkan Israel.

“Siapa pun yang mendorong kami meletakkan senjata, sejatinya ingin kami menyerah pada kepentingan Israel. Kami tidak akan pernah melakukannya,” tegas Qassem, sebagaimana dikutip oleh Reuters, Kamis (31/7/2025).

Penolakan tersebut mencuat di tengah tekanan meningkat dari Amerika Serikat dan sejumlah negara lain, pasca konflik besar tahun lalu antara Hizbullah dan Israel. Perang tersebut menyebabkan banyak korban jiwa dari pihak Hizbullah, pengungsian besar-besaran, dan kerusakan serius pada infrastruktur kelompok tersebut.

Mengutip lima sumber diplomatik, Reuters melaporkan bahwa pemerintah AS mendorong Lebanon agar menetapkan keputusan kabinet resmi terkait rencana perlucutan senjata Hizbullah. Langkah itu dinilai sebagai prasyarat untuk melanjutkan negosiasi gencatan senjata dengan Israel.

Namun, meski ada kabar bahwa internal Hizbullah mempertimbangkan pengurangan kekuatan militer, tidak ada indikasi bahwa kelompok ini akan sepenuhnya menyerahkan senjata mereka. Secara terbuka, mereka tetap bersikap tegas menolak desakan tersebut.

“Baik seruan dari dalam negeri, komunitas internasional, maupun dunia Arab yang mendorong perlucutan senjata, semuanya berjalan seirama dengan agenda Israel,” ungkap Qassem.

Qassem juga mengkritik keras utusan khusus AS, Amos Hochstein, yang menurutnya memaksakan agenda perlucutan senjata Hizbullah untuk kepentingan Israel semata, bukan demi keamanan Lebanon. Ia menuding Hochstein hanya ingin Hizbullah menyerahkan rudal dan drone-nya tanpa imbal balik yang adil.

“Israel takkan mampu mengalahkan kami, dan tidak akan pernah bisa menjadikan Lebanon sebagai sandera,” lanjut Qassem.

Pada awal Juli lalu, Hochstein dilaporkan melakukan kunjungan ke Beirut guna menyodorkan proposal pelucutan senjata penuh dalam waktu empat bulan. Imbalannya, Israel akan menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan yang masih disengketakan, serta menghentikan serangan udaranya.

Sebagai catatan, Hizbullah lahir sebagai kelompok perlawanan terhadap pendudukan Israel di masa lampau. Kini, mereka menjadi kekuatan militer non-pemerintah paling dominan di Lebanon. Namun, keberadaan mereka juga dianggap sebagai sumber konflik domestik dan ancaman stabilitas kawasan.