JurnalPatroliNews – Bandung – Wakil Menteri Koperasi dan UKM, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa penguatan komunitas agroforestri dapat menjadi pilar penting dalam membangun Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih. Menurutnya, keberadaan koperasi berbasis agroforestri mampu membuka peluang ekonomi hijau, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Kalau komunitas agroforestri sudah berbadan koperasi, pemerintah siap memberikan dukungan. Tapi kalau hanya berbentuk kelompok usaha, sulit bagi mereka untuk naik kelas karena terbatas akses permodalan dan fasilitas lainnya,” ujar Ferry dalam Seminar Nasional dan Expo Inovasi di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Rabu (20/8).
Ferry menambahkan, setiap kegiatan masyarakat di kawasan hutan sebenarnya memiliki potensi ekonomi. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan hasil produksi agar dapat ditampung koperasi dan diolah menjadi produk bernilai tambah. “Dengan begitu, koperasi berperan sebagai offtaker sekaligus penggerak pemasaran, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” jelasnya.
Untuk itu, Ferry menekankan pentingnya transformasi kelembagaan dari usaha perorangan menuju koperasi. Ia juga menyoroti perlunya penerapan teknologi agar koperasi bisa lebih kompetitif.
“Kemenkop mendapat mandat dari Presiden Prabowo untuk membentuk lebih dari 80 ribu Kopdes Merah Putih di seluruh pelosok desa. Hal ini menandai kembalinya koperasi sebagai instrumen utama pembangunan ekonomi rakyat yang lebih berkeadilan,” tegas Ferry.
Selain memperkuat distribusi produk desa, lanjutnya, Kopdes/Kel Merah Putih juga diharapkan mampu menekan harga agar tetap terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah.
Hilirisasi Agroforestri Berbasis Sukun
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Hariyadi, menilai tema seminar ini sejalan dengan agenda pembangunan pertanian dan kehutanan sosial. Ia menekankan bahwa pemilihan tanaman sukun sebagai bagian dari sistem agroforestri merupakan langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus kelestarian ekologi.
“Seminar ini bukan sekadar ruang diskusi, tapi juga wadah membangun jejaring antara akademisi, pelaku usaha, pemerintah, hingga masyarakat,” ujar Titiek.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan menjadikan sukun sebagai sumber inovasi pangan berkelanjutan. “Dengan kolaborasi yang solid, saya optimistis sukun mampu memberikan kontribusi besar menuju visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.














