Xi Jinping Dikabarkan Absen di ASEAN Summit 2025, Pertemuan dengan Trump Terancam Batal

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden China, Xi Jinping, disebut-sebut tidak akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN 2025 yang dijadwalkan berlangsung di Kuala Lumpur pada 26–28 Oktober mendatang. Informasi ini bersumber dari dua narasumber regional yang memahami isu tersebut, sebagaimana dilaporkan Channel News Asia.

Absennya Xi dikhawatirkan sekaligus menutup peluang pertemuan langsung dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya digadang-gadang bakal menjadi momen bersejarah di tengah ketegangan perang dagang kedua negara.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sempat menyebut baik Trump maupun Xi dijadwalkan hadir. Namun perkembangan terbaru menunjukkan kemungkinan besar Tiongkok akan diwakili Perdana Menteri Li Qiang, yang juga pernah menghadiri KTT ASEAN bersama negara-negara Teluk pada Mei lalu.

Baik Kementerian Luar Negeri Tiongkok maupun kantor PM Malaysia belum memberikan tanggapan resmi. Reuters melaporkan, pihak Anwar justru mengarahkan pertanyaan terkait kepada Kemlu Malaysia.

Trump sendiri sudah memastikan kehadirannya dalam forum ASEAN lewat komunikasi langsung dengan Anwar. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan bertemu Xi sebelum akhir tahun, bila kesepakatan dagang bisa tercapai.

Kabar lain menyebutkan, para pejabat kedua negara tengah membahas opsi pertemuan pada musim gugur di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan pada 30 Oktober – 1 November 2025. Jika benar, maka ASEAN Summit hanya akan dihadiri Trump tanpa Xi.

Xi Jinping sejatinya jarang menghadiri KTT ASEAN secara langsung. Sejak menjabat pada 2012, ia baru sekali ikut serta yakni melalui pertemuan virtual khusus pada 2021. Kehadiran presiden Amerika di forum serupa pun relatif jarang. Trump pernah hadir di 2017, sementara Joe Biden mengikuti secara daring di 2021 dan hadir langsung di Kamboja tahun berikutnya.

ASEAN Summit tahun ini digadang-gadang sebagai yang terbesar sepanjang sejarah, dengan rencana kehadiran sejumlah pemimpin dunia seperti Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa.

Di sisi lain, ketegangan dagang AS–Tiongkok masih membayangi. Kedua negara baru saja memperpanjang masa gencatan tarif 90 hari guna mencegah lonjakan bea masuk baru, sembari melanjutkan negosiasi terkait akses pasar, neraca perdagangan, hingga isu mineral tanah jarang. Kebijakan tarif Trump sebelumnya sempat mengguncang Asia Tenggara yang sangat bergantung pada sektor ekspor dan manufaktur.