JurnalPatroliNews – Pyongyang – Pemerintah Korea Utara mengirimkan sinyal diplomatik yang sangat keras terkait posisi pertahanan strategisnya di kancah internasional.
Adik kandung dari pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo-jong, menegaskan bahwa program senjata nuklir negaranya tidak dapat ditawar oleh pihak mana pun.
Ketegasan sikap politik tersebut disuarakan tepat menjelang agenda kunjungan resmi Presiden China, Xi Jinping, ke negara terisolasi tersebut pada pekan ini.
Pernyataan dari sosok yang dikenal sebagai orang kepercayaan Jong-un itu menjadi indikasi kuat bahwa Pyongyang tidak akan mengubah arah kebijakan militernya.
Mereka dipastikan tetap mempertahankan pengembangan senjata pemusnah massal tersebut meski terus dihujani tekanan dan sanksi internasional.
“Status kami sebagai negara nuklir sama sekali tidak dapat dinegosiasikan,” ujar Kim Yo-jong melalui rilis resmi yang dimuat oleh kantor berita pemerintah Korut, KCNA, sebagaimana dilansir Yonhap.
Perempuan berpengaruh di lingkaran kekuasaan Pyongyang itu juga menambahkan bahwa negaranya tidak akan menoleransi segala bentuk ancaman yang mengarah pada kedaulatan mereka.
Berdasarkan laporan dari AFP, Korea Utara selama bertahun-tahun memang terus bersikeras memperkuat proyek senjata nuklir serta rudal balistik antarbenua mereka.
Padahal, seluruh aktivitas pengembangan militer berdaya ledak tinggi tersebut telah dilarang keras di bawah resolusi sanksi Dewan Keamanan PBB.
Langkah berani Pyongyang bahkan mencapai puncaknya pada tahun 2023 silam saat mereka resmi memasukkan status negara nuklir ke dalam konstitusi hukum nasional mereka.
Menurut data dari Yonhap, manifesto politik dari Kim Yo-jong ini mencuat tepat sehari sebelum lawatan kenegaraan Xi Jinping dimulai.
Agenda kunjungan tingkat tinggi orang nomor satu di China tersebut dijadwalkan berlangsung pada hari Senin besok hingga Selasa mendatang.
Sektor diplomatik mencatat bahwa Beijing selama ini memegang peranan krusial sebagai sumber penyokong utama bagi stabilitas politik dan ekonomi Korea Utara.
Dukungan total tersebut sangat berarti bagi Pyongyang yang saat ini menyandang status sebagai salah satu negara paling terisolasi di dunia akibat sanksi global.
Kunjungan kenegaraan ke ibu kota Pyongyang ini sekaligus menandai momentum lawatan diplomatik luar negeri pertama bagi Xi Jinping sepanjang tahun ini.
Sebelum memutuskan bertolak ke Korea Utara, Xi Jinping diketahui telah menggelar rangkaian pertemuan bilateral tingkat tinggi secara maraton pada bulan lalu.
Pemimpin China tersebut sebelumnya telah sukses menerima kedatangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan beruntun.















Komentar