JurnalPatroliNews – Elon Musk berpeluang mencetak sejarah sebagai manusia pertama dengan kekayaan tembus triliun dolar AS. Peluang itu terbuka setelah Tesla mengajukan paket kompensasi baru yang nilainya sangat fantastis.
Dalam dokumen resmi yang diserahkan ke Securities and Exchange Commission (SEC) pada Jumat (5/9/2025), Tesla menawarkan tambahan 423,7 juta lembar saham kepada Musk. Nilainya diperkirakan mencapai 143,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.200 triliun.
Namun, untuk benar-benar mengantongi saham tersebut, Musk harus membawa Tesla mencapai valuasi perusahaan sebesar 8,5 triliun dolar AS, jauh di atas kapitalisasi pasar saat ini yang masih berada di angka 1,1 triliun dolar AS.
Ketua Tesla, Robyn Denholm, yakin Musk mampu mewujudkan target besar itu.
“Pertumbuhan yang kelihatannya mustahil dapat dicapai lewat inovasi, teknologi baru, dan ide-ide revolusioner,” ujarnya dikutip dari New York Times, Sabtu (6/9).
Menurut catatan Forbes, kekayaan Musk saat ini diperkirakan lebih dari 400 miliar dolar AS. Jika seluruh target berhasil diraih, kompensasi baru ini bisa menambah hampir 900 miliar dolar AS ke pundi-pundinya. Musk juga akan menguasai sekitar 29 persen saham Tesla, memberikan kendali yang lebih besar dari sebelumnya.
Meski begitu, Musk tak serta-merta bisa menikmati saham tersebut. Ia harus bertahan di Tesla minimal 7,5 tahun untuk bisa mencairkan sebagian haknya, dan 10 tahun untuk memperoleh keseluruhan paket. Syarat lainnya, ia wajib memenuhi target ambisius, seperti:
- Mengoperasikan 1 juta taksi otonom.
- Menciptakan 1 juta robot.
- Meningkatkan laba Tesla lebih dari 24 kali lipat.
Namun jalan menuju target ini tidak mudah. Persaingan global dalam pengembangan mobil tanpa pengemudi maupun robotika semakin ketat, dengan banyak perusahaan besar ikut bermain di sektor yang sama.
Rencana kompensasi jumbo ini juga menimbulkan perdebatan. Beberapa investor menganggap nilainya berlebihan, terutama karena kinerja Tesla sempat menurun tahun lalu. Penurunan penjualan disebut dipengaruhi oleh semakin kuatnya keterlibatan Musk dalam politik sayap kanan di AS, termasuk kedekatannya dengan pemerintahan Donald Trump, yang membuat sebagian konsumen loyal Tesla kecewa.
Skema ini mengingatkan pada paket kompensasi 2018, di mana Musk juga menerima jutaan saham setelah berhasil mencapai target yang dianggap mustahil. Kala itu, pengadilan Delaware akhirnya membatalkan paket tersebut karena dinilai terlalu besar dan dewan Tesla dianggap tidak transparan dalam menyampaikan detailnya ke pemegang saham.
Jika kali ini Musk sukses, ia bisa menorehkan rekor sebagai triliuner pertama di dunia.














