Revolusi Gen-Z di Nepal Dipicu Flexing Keluarga Pejabat dan Urgensi RUU Perampasan Aset di Indonesia Agar Segera Dibahas DPR

Oleh: Andre Vincent Wenas

JurnalPatroliNews – Kerusuhan atau Revolusi Gen-Z di Nepal akhirnya meruntuhkan rezim korup yang dipimpin Perdana Menteri KP Sharma Oli (73 tahun) dari Partai Komunis selama 4 periode. Anak-anak muda Nepal rupanya sudah muak dengan para pemimpin serta keluarganya yang kerap flexing memamerkan gaya hidup yang bergelimangan kemewahan.

Bahkan rumah serta istri KP Sharma Oli, Jhala Nath Khanal dikabarkan telah dibakar hidup-hidup dalam kerusuhan massa di negeri itu. Jadi tumbal revolusi. Para pejabat lainnya berlarian kocar-kacir diburu amok massa yang sudah tak terkendali lagi. Tragis, sadis dan amat menyedihkan.

Negara tetangganya, India, dikabarkan langsung rapat darurat untuk mengantisipasi situasi di negara sebelah. PM Narendra Modi mencuit di akun X-nya, “On my return from Himachal Pradesh and Punjab today, a meeting of the Cabinet Committee on Security discussed the developments in Nepal. The violence in Nepal is heart-rending. I am anguished that many young people have lost their lives. The stability, peace and prosperity of Nepal are of utmost importance to us. I humbly appeal to all my brothers and sisters in Nepal to support peace.” (10 September 2025).

Modi langsung memimpin rapat CCS (Cabinet Committee on Security) untuk me-review situasi di negara tetangganya, Nepal, yang telah sampai merenggut nyawa secara tragis, utamanya anak-anak muda. Nepal tengah dilanda krisis sosial politik yang dipicu keputusan pemerintahnya yang melarang 26 platform media sosial (TikTok, X, Facebook, Instagram, dll.). Keputusan ini memantik demonstrasi massal di kalangan pemuda negeri itu, yang disebut “Gen Z movement” melawan larangan terhadap kebebasan berekspresi, kebebasan menyampaikan pendapat.

Apa yang dimulai dengan aksi protes secara damai telah tereskalasi menjadi perbenturan kekerasan yang melibatkan aparat keamanan. Mirip dengan kejadian di Indonesia kemarin. Kerusuhan di Nepal memakan korban 19 orang yang dikabarkan tewas dan lebih dari 300 orang terluka setelah polisi menggunakan amunisi, termasuk peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Walaupun sekarang pemerintah Nepal telah mencabut larangan terhadap media sosial, kerusuhan itu telah meluas ke seluruh negeri dan menuntut pertanggung jawaban. Beberapa posisi menteri telah mengundurkan diri, diikuti PM KP Sharma Oli, termasuk Presiden Ram Chandra Poudel yang telah meletakan jabatan.

Angkatan bersenjata menutup semua penerbangan menuju dan dari Kathmandu demi menertibkan keamanan negeri, situasi di Nepal dikabarkan tegang dan rawan. Tentara Nepal dikerahkan untuk berpatroli di jalan-jalan ibu kota Kathmandu. Sementara dinginnya pengunungan Himalaya yang mampu meredam kemarahan rakyat.