Peringatan: Gaya Flexing Pejabat Bisa Picu Gejolak Sosial di Indonesia

JurnalPatroliNews – Jakarta – Kasus kerusuhan massal yang melanda Nepal baru-baru ini dinilai menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Pemicu utama amarah publik di negara tersebut adalah gaya hidup mewah dan aksi pamer kekayaan anak pejabat di tengah penderitaan rakyat.

Direktur Eksekutif Jamsos Institut, Andy Willam Sinaga, mengingatkan bahwa fenomena serupa berpotensi terjadi di Indonesia jika para pejabat tidak lebih peka terhadap kondisi masyarakat.

“Kerusuhan di Nepal bisa menjadi cermin. Jika pejabat kita terus pamer kekuasaan dan kemewahan di saat rakyat hidup susah dan terpinggirkan, potensi ledakan sosial di Indonesia bisa lebih besar lagi,” ujar Andy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (11/9/2025).

Aktivis senior Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) itu menambahkan, gerakan massa di Nepal digerakkan oleh Generasi Z. Jika dibandingkan dengan Indonesia, kelompok ini bahkan jauh lebih besar, mencapai 75 juta jiwa atau 28 persen dari populasi nasional.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pejabat eksekutif, legislatif, maupun yudikatif untuk berhati-hati dalam bersikap. “Para pemegang kekuasaan seharusnya tidak mempertontonkan gaya hidup hedonis dan flexing kepada publik,” tegasnya.

Menurut Andy, perilaku pamer kemewahan pejabat di Indonesia sudah terbukti memicu kecemburuan sosial. Ia mencontohkan insiden penyerangan rumah beberapa anggota DPR RI beberapa waktu lalu sebagai bukti nyata meningkatnya kemarahan rakyat terhadap gaya hidup pejabat yang dianggap tidak peduli pada penderitaan masyarakat.

Andy juga menyoroti langkah pemerintah yang sempat membatasi media sosial saat terjadi gejolak sosial. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan solusi.

“Masalahnya bukan pada media sosial, melainkan pada perilaku pejabat. Yang dibutuhkan adalah pengawasan algoritma yang bersifat preventif dan edukatif, bukan pembatasan. Dengan begitu potensi kerusuhan bisa dicegah,” jelasnya.

Diketahui, kerusuhan di Nepal mengakibatkan 19 orang tewas. Massa yang marah membakar kantor parlemen dan rumah perdana menteri setelah keluarga pejabat pamer kemewahan di tengah kondisi rakyat yang kesulitan.