PLTS Hybrid Pertama di Filipina Resmi Beroperasi, Pertamina NRE Perluas Jejak Energi Bersih

JurnalPatroliNews – Jakarta – Pembangkit listrik tenaga surya dengan kapasitas 197 megawatt peak (MWp) yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS) berkapasitas 320 megawatt hour (MWh) resmi mulai beroperasi di Batangas, Filipina.

Fasilitas energi terbarukan ini digarap oleh Citicore Renewable Energy Corporation (CREC), perusahaan mitra Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), dan peresmiannya dilakukan langsung oleh Presiden Filipina, Ferdinand Romualdez Marcos Jr.

PLTS tersebut berdiri di dua titik, yaitu di Lumbangan berdaya 125 MWp serta di Luntal berkapasitas 72 MWp. Berkat tambahan BESS, proyek ini menjadi PLTS hibrida sekaligus baseload pertama di Filipina, yang berarti mampu memasok listrik ramah lingkungan secara konsisten 24 jam penuh tanpa terputus.

CEO Pertamina NRE, John Anis, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan tonggak penting dalam memperkuat portofolio energi bersih Pertamina. “Sebagai pemegang saham CREC, kami sangat mengapresiasi keberhasilan ini. Capaian ini adalah pijakan awal menuju target besar CREC, yakni menambah kapasitas 1 gigawatt setiap tahun selama lima tahun ke depan,” ungkapnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/9/2025).

Presiden Marcos Jr. turut menegaskan dukungannya dan berharap target tersebut dapat direalisasikan secara konsisten.

Lebih jauh, proyek ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan berbasis teknologi penyimpanan skala besar, untuk menjawab tantangan intermitensi sumber daya surya dan angin.

Dari sisi bisnis, performa CREC cukup gemilang. Pada paruh pertama 2025, perusahaan membukukan pendapatan 2,66 miliar peso atau sekitar 134 juta dolar AS, dengan kenaikan laba bersih 38 persen menjadi 630 juta peso (32 juta dolar AS). Sepanjang tahun berjalan, harga sahamnya tercatat melonjak 32 persen.

Secara lingkungan, PLTS Batangas diproyeksikan mampu menekan emisi karbon hingga 265.933 ton CO₂e per tahun. Jika dikonversi, dampaknya setara dengan menanam lebih dari 12 juta pohon. Selain itu, listrik hijau dari fasilitas ini dapat memenuhi kebutuhan sekitar 158.300 rumah tangga di Filipina.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menambahkan bahwa keberhasilan ini sejalan dengan misi Pertamina dalam mempercepat transisi energi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Asia Tenggara. “Pertamina sebagai motor transisi energi nasional ingin mengambil peran aktif dalam mengembangkan energi terbarukan di kawasan. Upaya ini juga mendukung ketahanan energi di masa depan,” jelasnya.