JurnalPatroliNews – Jakarta – Partai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Partai Republik, dikabarkan tengah “kebakaran jenggot” setelah Zohran Mamdani berhasil memenangkan pemilihan kepala daerah di New York.
Mamdani menjadi wali kota Muslim pertama sekaligus keturunan Asia Selatan pertama yang memimpin kota terbesar di Amerika tersebut.
Namun, kemenangan bersejarah itu justru memicu gelombang reaksi keras dari Partai Republik. Sejumlah politisi partai konservatif tersebut bahkan mengancam akan mengusir Mamdani dari New York dan mencabut kewarganegaraannya.
Aksi ancaman itu dipicu oleh permintaan sejumlah anggota parlemen Republik agar dilakukan penyelidikan terhadap proses naturalisasi Mamdani. Mereka menuduh Mamdani terlibat dalam kegiatan komunis dan terorisme yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Amerika.
“Jika Mamdani berbohong dalam dokumen naturalisasinya, ia tidak berhak menjadi warga negara, dan tentu saja tidak berhak mencalonkan diri sebagai wali kota New York City.
New York berada di ambang kehancuran dipimpin oleh seorang komunis yang secara terbuka menganut ideologi teroris,” ujar anggota DPR Andy Ogles dari Partai Republik, dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/11/2025).
Andy juga mendesak Jaksa Agung AS, Pam Bondi, untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap latar belakang Mamdani.
“Sistem naturalisasi Amerika membutuhkan pengungkapan penuh atas segala keterlibatan dengan komunisme atau kegiatan teroris.
Saya ragu ia (Mamdani) mengungkapkannya. Jika ini terbukti benar, kirim dia kembali ke Uganda dengan penerbangan pertama,” ujarnya.
Nada serupa dilontarkan oleh Randy Fine, perwakilan Partai Republik lainnya, yang menyebut Mamdani sebagai “orang barbar” dan menilai dirinya tidak layak memegang kewarganegaraan AS.
Sebelumnya, Donald Trump sendiri sempat mengancam akan menahan dana federal untuk New York City jika Mamdani memenangkan pemilihan wali kota.
Meski begitu, Mamdani tetap berhasil unggul dalam pemilu dan kini menjadi simbol perubahan politik di kota metropolitan tersebut.
Kemenangan Mamdani disambut luas oleh kelompok progresif dan komunitas Muslim di Amerika. Namun, ancaman deportasi dari kubu Partai Republik menandai meningkatnya ketegangan politik di bawah pemerintahan Trump yang kembali berkuasa.














