JurnalPatroliNews – Jakarta – Pada usianya yang genap 90 tahun pada Sabtu (15/11/2025), Presiden Palestina Mahmoud Abbas berdiri di antara dua babak sejarah: masa lalu yang pernah penuh harapan menuju negara merdeka, dan masa kini yang dipenuhi krisis legitimasi, perang berkepanjangan, serta ketidakpastian arah bagi bangsanya.
Selama dua dekade memimpin, Abbas menjadi simbol diplomasi Palestina, namun kini dinilai semakin jauh dari realitas di lapangan.
Abbas, presiden tertua kedua di dunia setelah Paul Biya dari Kamerun, lebih banyak menghabiskan waktu di markasnya di Ramallah.
Dari sana, ia mengendalikan wilayah Otoritas Palestina (PA) di Tepi Barat yang makin terjepit oleh perluasan permukiman Israel serta kontrol keamanan yang semakin ketat.
Namun bagi banyak warga Palestina, baik di Tepi Barat maupun Gaza, pengaruh Abbas telah merosot tajam. Survei terbaru menunjukkan 80% warga menginginkan ia mundur.
Nada ketidakpuasan terdengar di pasar, rumah-rumah penduduk, hingga percakapan di antara generasi muda yang tumbuh tanpa pernah merasakan pemilu.
Jauh dari Rakyat
Banyak warga Palestina menilai Abbas semakin terlepas dari kehidupan rakyatnya. Ia jarang tampil di luar Ramallah, dan kebijakan-kebijakannya dianggap berasal dari lingkaran sempit penasihatnya.
Kritik menyebut kepemimpinannya terlalu birokratis dan tidak lagi menggambarkan semangat perjuangan nasional.
“Legitimasinya sudah lama terkuras. Dia jadi beban, bukan lagi motor gerakan,” ujar Khalil Shikaki, peneliti opini publik Palestina.
Di permukiman padat Tepi Barat, keluhan serupa terus terdengar: warga merasa berada di antara dua tekanan, pendudukan Israel di satu sisi, dan pemerintahan Abbas yang dinilai tidak transparan di sisi lain.
Dua puluh tahun lalu, Palestina berada dalam suasana yang sangat berbeda. Abbas menggantikan Yasser Arafat pada saat penuh harapan.
Banyak yang menilai Abbas sebagai teknokrat tenang yang dapat membawa Palestina menuju perundingan bersejarah.
Namun pada 2007, Hamas mengambil alih Gaza, memecah Palestina menjadi dua entitas politik yang semakin berjauhan. Perpecahan itu membekukan sistem politik Palestina hingga hari ini.
“Sejak itu, tidak ada kepemimpinan yang berhasil mempersatukan semua pihak,” kata seorang warga Gaza kepada media lokal.
Tekanan Israel
Kontrol Israel di Tepi Barat semakin diperketat, permukiman diperluas, dan kekerasan pemukim meningkat. Di sisi lain, PA terus menjalankan kerja sama keamanan dengan Israel, sebuah syarat utama dari Israel dan negara-negara Barat.
Sebagian warga menilai langkah itu sebagai upaya pragmatis demi stabilitas. Namun sebagian lainnya menganggap PA terlalu dekat dengan otoritas Israel.
“PA telah memilih untuk bergandengan tangan dengan pendudukan,” ujar akademisi Universitas Bir Zeit, Abdaljawad Omar.
Meski dianggap terlalu kooperatif, Israel tetap menekan PA dengan menahan dana pajak hingga mencapai US$ 3 miliar. Akibatnya, Tepi Barat mengalami krisis ekonomi yang terus memburuk.
Krisis Gaza
Perang Gaza semakin memperparah situasi. Palestina menyebut operasi militer Israel sebagai genosida, sementara Israel membantah. Namun kehancuran Gaza menciptakan vakum politik yang belum pernah sebesar ini.
AS yang dulu mendukung PA sebagai mitra perdamaian, kini mengikuti sikap Israel yang menolak PA memerintah Gaza selepas perang. Sebagian analis memperingatkan Gaza bisa terjebak dalam administrasi internasional yang tidak mewakili rakyat Palestina.
Jika itu terjadi, peluang pembentukan negara Palestina akan semakin menjauh.
Abbas sempat memberi sinyal perubahan dengan menjanjikan pemilu legislatif dan presiden setelah perang, membentuk komisi penyusunan konstitusi bersama Prancis, serta memberhentikan menteri terkait dugaan korupsi.
Namun sebagian besar warga tetap skeptis. Survei menunjukkan hanya 30% masyarakat percaya PA mampu memerintah Gaza secara efektif. Bahkan jika pemilu digelar sekarang, tokoh Fatah Marwan Barghouti—yang masih dipenjara Israel—diprediksi menang besar.
Menua Bersama Konflik
Di usia 90 tahun, Abbas berada di persimpangan sejarah. Ia bagian dari generasi yang menjadi pilar perjuangan Palestina sejak awal, namun juga bagian dari elite yang dianggap tidak membawa perubahan nyata.
Bagi sebagian rakyat Palestina, Abbas adalah simbol perjuangan yang menua bersama konflik yang tak kunjung selesai. Bagi yang lain, ia adalah pemimpin yang waktunya sudah lewat, sementara generasi baru menunggu kesempatan mengambil alih.
Namun satu hal tetap pasti: masa depan Palestina kini melampaui sosok mana pun. Ketika Abbas menua di kursinya, rakyat Palestina—di Gaza, Tepi Barat, hingga diaspora—menunggu kepemimpinan baru yang mampu membawa mereka kembali pada cita-cita kenegaraan yang telah lama diperjuangkan.














