JurnalPatroliNews – Jakarta – Ukraina tengah menghadapi polemik besar terkait rencana perdamaian dengan Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut negaranya berisiko kehilangan harga diri dan kebebasannya apabila menerima proposal Amerika Serikat yang salah satu poinnya meminta Ukraina menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Rusia.
Dalam pidatonya pada Jumat (21/11/2025) di luar kantor kepresidenan, Zelensky mengajak rakyat Ukraina untuk tetap bersatu dan menjaga solidaritas nasional di tengah tekanan internasional terhadap nasib perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.
“Sekarang adalah salah satu momen tersulit dalam sejarah kita. Ukraina kini menghadapi pilihan sangat sulit: kehilangan martabat atau kehilangan mitra utama,” kata Zelensky, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (22/11/2025).
Zelensky menegaskan dirinya tidak akan mengkhianati rakyat dan negara Ukraina. Ia memastikan akan memperjuangkan dua prinsip utama dalam rencana tersebut, yakni martabat dan kebebasan rakyat Ukraina.
Pernyataan keras Zelensky muncul setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan memberikan batas waktu kurang dari seminggu kepada Ukraina untuk menerima proposal perdamaian yang berisi 28 poin.
Proposal itu disusun untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina yang meletus sejak Rusia melakukan invasi pada Februari 2022.
Laporan media menyebutkan sejumlah poin dalam proposal AS tersebut didorong kuat oleh Rusia. Di antaranya Ukraina harus menyerahkan wilayah tambahan, mengurangi kekuatan militernya, dan dilarang bergabung dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO).
Sejumlah analis menyebut syarat tersebut dapat melemahkan posisi Ukraina secara strategis dan politik di masa depan.
Hingga kini, pemerintahan Zelensky masih mengkaji tekanan diplomatik tersebut sambil meminta dukungan rakyat agar Ukraina tidak dipaksa menerima kesepakatan yang menggerus kedaulatannya.













