JurnalPatroliNews – Jakarta – Setelah berbulan-bulan saling menyerang di ruang publik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wali Kota terpilih New York City, Zohran Mamdani, akhirnya memperlihatkan hubungan yang lebih hangat dalam pertemuan pertama mereka di Gedung Putih pada Jumat (21/11/2025) waktu setempat.
Pertemuan tersebut menjadi titik balik setelah sebelumnya keduanya saling melontarkan tuduhan keras, mulai dari sebutan “komunis” hingga “si lalim”.
Dalam pertemuan itu, Trump dan Mamdani sepakat untuk meninggalkan ketegangan politik masa lalu dan bekerja sama demi kepentingan warga Amerika Serikat, khususnya masyarakat New York City.
“Kami akan membantunya untuk membuat mimpi semua orang menjadi nyata, yaitu untuk mewujudkan New York yang kuat dan sangat aman,” ujar Trump di Ruang Oval, sementara Mamdani berdiri di belakangnya.
Trump juga mencabut ancaman sebelumnya untuk memotong dana federal bagi New York City. Ia mengakui cukup terkejut karena Mamdani ternyata sosok yang dinilainya sangat rasional.
Di sisi lain, Mamdani menilai pembicaraan tersebut berlangsung produktif, berfokus pada kecintaan mereka terhadap New York City dan pentingnya menjaga keterjangkauan bagi warganya.
New York memiliki makna besar bagi keduanya. Meski Trump kini lebih banyak tinggal di Mar-a-Lago ketika tidak berada di Gedung Putih, kota tersebut merupakan rumahnya selama puluhan tahun dan menjadi tempat ia membangun bisnis hingga menapaki karier politik nasional.
Mamdani, yang lahir di Uganda pada 1991, pindah ke New York saat berusia tujuh tahun dan telah tinggal di sana selama 27 tahun.
Pertemuan hangat yang ditandai dengan jabat tangan dan senyuman itu menjadi sinyal mencairnya hubungan mereka. Banyak pihak menilai kedua tokoh akhirnya melihat bahwa kerja sama lebih bermanfaat daripada pertikaian berkepanjangan.
Sebelum pemilihan wali kota New York City pada 4 November 2025, Trump berusaha menggagalkan kemenangan Mamdani dan mendukung rivalnya, Andrew Cuomo.
Namun dalam pertemuan Jumat itu, fokus pembahasan bergeser ke isu kenaikan biaya hidup. Trump mengaku terkejut saat mengetahui perusahaan listrik New York, Con Edison, tidak memberikan keuntungan nyata bagi warga meski menikmati biaya energi yang lebih murah.
Ketika seorang wartawan bertanya apakah Mamdani masih menganggap Trump sebagai seorang fasis, Trump justru menanggapi santai. “Tidak apa-apa, jawab saja iya, lebih mudah daripada menjelaskannya,” katanya. Ia menegaskan dirinya tidak lagi tersinggung dengan julukan “orang lalim”, karena sudah sering disebut dengan istilah lebih buruk.
Isu keterjangkauan kini menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Trump menyusul merosotnya tingkat penerimaan publik dalam beberapa bulan terakhir.
Penurunan popularitas ini turut berpengaruh terhadap kekalahan kandidat Partai Republik dalam sejumlah pemilihan lokal, termasuk pemilihan wali kota New York City yang dimenangkan Mamdani.
Meski hubungan dengan Mamdani membaik, tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik masih panjang, terutama jelang pemilihan paruh waktu anggota Kongres AS pada November 2026.














