China Resmi Buka Keran Impor Kiwi Iran, Perdagangan Buah Makin Kompetitif

JurnalPatroliNews – Jakarta –  China mulai mengizinkan masuknya kiwi segar dari Iran setelah kedua negara merampungkan kesepakatan terkait standar karantina dan ketentuan kesehatan tanaman. Regulasi baru ini berlaku mulai pekan ini dan menjadi langkah lanjutan Beijing dalam memperluas sumber pasokan komoditas pertanian dari luar negeri.

Kebijakan tersebut juga sejalan dengan tren “kebebasan buah” yang belakangan marak di kalangan konsumen China—ungkapan yang menggambarkan makin mudahnya membeli buah impor dengan harga yang ramah di kantong. Pengamat perdagangan menilai, kelonggaran impor semacam ini mampu memangkas biaya logistik dan risiko transaksi, sekaligus menciptakan peluang besar bagi negara-negara berkembang untuk memperluas ekspor buah ke pasar China.

Laporan Global Times edisi Jumat, 21 November 2025, mencatat bahwa ekspor buah China selama Januari–September mencapai 5,80 miliar dolar AS, naik tipis 1,6 persen dibanding tahun lalu. Di sisi lain, impor buah tumbuh lebih cepat, melonjak 4,6 persen hingga menyentuh 16,45 miliar dolar AS.

Pasokan dari ASEAN masih mendominasi, terutama durian, pisang, dan mangga yang menguasai etalase ritel di berbagai kota besar. Namun, produk-produk jarak jauh seperti ceri asal Chile maupun kiwi dari Selandia Baru tetap memperluas pengaruhnya di pasar China.

Fenomena “kebebasan buah” tersebut erat kaitannya dengan kebijakan keterbukaan dalam Rencana Lima Tahun ke-14 China, termasuk pembangunan jejaring zona perdagangan bebas. Dalam rancangan Rencana Lima Tahun ke-15, Beijing bahkan menargetkan diversifikasi impor pertanian secara lebih agresif dan koordinasi yang lebih kuat antara sektor produksi dan perdagangan.

Data Januari–Oktober menunjukkan total perdagangan pangan China dengan ASEAN mencapai 51,3 miliar dolar AS, naik 8,9 persen dari periode sebelumnya. Impor buah segar dan kering dari kawasan tersebut telah menembus 10 miliar dolar AS dan menyumbang lebih dari dua pertiga total impor buah China.

Para analis menambahkan bahwa penyesuaian kebijakan China dengan standar perdagangan internasional—mulai dari tarif, prosedur bea cukai, hingga fasilitas pembiayaan—berperan besar menurunkan biaya impor dan mempercepat aliran barang. Negara-negara yang memiliki iklim berbeda, seperti Iran, kini punya peluang strategis untuk menghadirkan varietas buah yang tak diproduksi di China.

Selain itu, proses negosiasi dalam forum APEC serta program pengurangan tarif bagi negara kurang berkembang turut membuka pintu lebih lebar bagi produk agrikultur asing masuk ke pasar China dengan harga yang lebih terjangkau.