Vietnam Mulai Menggandeng Teknologi 5G China Setelah Tertekan Tarif AS

JurnalPatroliNews – Jakarta – Ketegangan diplomatik antara Vietnam dan Amerika Serikat (AS) akibat kebijakan tarif terbaru Washington mulai berbuntut panjang di sektor teknologi. Dalam situasi tersebut, dua raksasa telekomunikasi China Huawei dan ZTE justru semakin memperluas kehadirannya di Vietnam. Sepanjang tahun ini, kedua perusahaan dilaporkan meraup sejumlah kontrak pemasokan perangkat 5G di negara tersebut.

Menurut tujuh sumber yang dikutip Reuters, perkembangan ini menunjukkan adanya peningkatan keakraban antara Hanoi dan Beijing. Padahal selama ini Vietnam dikenal sangat selektif terhadap teknologi asal China, terutama untuk infrastruktur digital strategis.

Namun dalam beberapa bulan terakhir, dinamika berubah. Ketika hubungan perdagangan dengan AS memanas akibat kenaikan tarif, pemerintah Vietnam mulai membuka peluang yang lebih besar bagi perusahaan telekomunikasi China — sesuatu yang sebelumnya sangat jarang terjadi.

Meski demikian, dominasi perusahaan Barat belum sepenuhnya tergeser. Ericsson dan Nokia tetap menjadi pengelola utama infrastruktur inti 5G di Vietnam, sementara Qualcomm terus memasok perlengkapan jaringan tambahan. Akan tetapi, dokumen pengadaan publik yang jarang terekspos memperlihatkan bahwa perusahaan-perusahaan China perlahan memenangkan tender bernilai lebih kecil dari operator telekomunikasi milik negara.

Pada April lalu, konsorsium yang turut melibatkan Huawei dikabarkan mendapat kontrak sekitar 23 juta dolar AS, hanya beberapa minggu setelah AS mengumumkan tarif baru terhadap produk Vietnam. ZTE juga dilaporkan merebut sedikitnya dua kontrak dengan nilai gabungan lebih dari 20 juta dolar AS. Meski belum ada kepastian bahwa tarif AS menjadi pemicu langsung kemenangan tender tersebut, kesamaan waktu memperlihatkan korelasi yang mencolok.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pejabat Barat. Selama ini, Washington menilai pembatasan perusahaan China pada proyek digital Vietnam merupakan syarat penting agar Vietnam dapat terus memperoleh akses terhadap teknologi canggih dari AS. Huawei dan ZTE sendiri telah lama diblokir dari jaringan telekomunikasi AS karena dinilai berisiko bagi keamanan nasional.

Pada saat yang sama, relasi Vietnam–China semakin menghangat di sektor lain. Proyek-proyek sensitif yang dulu sempat ditolak karena alasan keamanan kini mulai kembali dibahas, termasuk pembangunan jalur kereta lintas batas dan zona ekonomi khusus di wilayah perbatasan.

Bahkan pada Juni lalu, Huawei menandatangani perjanjian transfer teknologi 5G dengan Viettel, operator telekomunikasi milik militer Vietnam — sebuah langkah simbolis yang menunjukkan semakin rapatnya kerja sama kedua negara di sektor digital.