JurnalPatroliNews – Jakarta – Bentrok bersenjata kembali pecah di Republik Demokratik Kongo setelah kelompok M23 dan Tentara Nasional Kongo terlibat pertempuran sengit, hanya beberapa hari setelah Presiden Félix Tshisekedi dan Presiden Rwanda Paul Kagame menandatangani kesepakatan damai di Washington.
Situasi memanas ketika M23 berhasil merebut sejumlah wilayah penting, termasuk Uvira, kota strategis di perbatasan Burundi. Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa kota tersebut nyaris tidak lagi dijaga militer.
“Tidak terlihat satu pun tentara Kongo. Banyak dari mereka kemarin menyeberang dengan perahu menuju Provinsi Tanganyika,” kata warga bernama Alain Uaykani kepada Al Jazeera, Kamis 11 Desember 2025.
Warga menggambarkan kondisi Uvira sebagai kota yang kacau. Tiga ledakan besar terdengar, disertai rentetan tembakan yang menghantui penduduk. Akibat eskalasi kekerasan itu, sekitar 200.000 orang di wilayah timur Kongo terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk menyelamatkan diri.
Di tengah kekacauan tersebut, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan delapan negara Eropa menuding Rwanda masih mendukung operasi M23. Tuduhan serupa sebelumnya juga disampaikan PBB yang menyatakan militer Rwanda secara de facto berada di balik kendali kelompok bersenjata itu.
Sejak serangan terbaru dimulai awal bulan ini, PBB mencatat sedikitnya 74 korban tewas dan 83 orang luka-luka. Arus pengungsian pun membeludak ke Burundi, dengan lebih dari 8.000 orang memasuki negara tersebut setiap hari.
Presiden Tshisekedi menilai serangan ini sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan nasional. Ia menegaskan bahwa Kongo kini berada dalam situasi “perang proksi” yang melibatkan perebutan wilayah kaya mineral dan sumber daya ekonomi strategis.














