JurnalPatroliNews – Jakarta – Fitch Ratings menyoroti bahwa industri pelayaran dunia tengah berada dalam fase pelemahan. Prospek jangka menengahnya dinilai suram akibat rangkaian faktor seperti ketegangan geopolitik, perlambatan pertumbuhan ekonomi global, serta kecenderungan negara-negara untuk memperketat kebijakan proteksionis.
Dalam laporan terbaru bertajuk Global Shipping Outlook 2026, lembaga pemeringkat tersebut menilai bahwa jalur-jalur pengiriman utama masih dibayangi ketidakpastian. Salah satu risiko terbesar adalah potensi kembali terganggunya pelayaran melalui Laut Merah—situasi yang bisa menekan kebutuhan tonne-mile sekaligus menggeser peta distribusi perdagangan internasional.
Dampak ke Indonesia
Indonesia dinilai tidak sepenuhnya terlindungi dari dinamika global tersebut. Perubahan rute kapal dan ketegangan geopolitik dapat memicu kenaikan ongkos logistik, mengingat Indonesia masih banyak bergantung pada jalur Asia–Eropa dan Timur Tengah untuk perdagangan komoditas seperti baja, energi, tekstil, dan produk elektronik.
Fitch memperkirakan bahwa pada 2026 akan terjadi penyesuaian tarif angkut global. Tekanan ini kemungkinan membuat pendapatan perusahaan pelayaran kontainer internasional menurun. Namun bagi Indonesia, dampaknya bersifat ganda:
- Positif: potensi penurunan biaya impor bahan baku industri.
- Negatif: ketidakpastian jadwal serta perubahan rute yang dapat mengganggu kelancaran pasokan.
Proteksionisme Kian Menguat
Arus proteksionisme global yang semakin kuat juga dapat menekan ekspor Indonesia, terutama untuk produk bernilai tambah seperti otomotif, komponen elektronik, serta turunan CPO. Meski begitu, Fitch menilai masih ada ruang bagi Indonesia untuk membuka pasar baru, khususnya ke kawasan Asia Selatan dan Afrika.
Prospek Segmen Tanker dan Bulk
Untuk kategori kapal tanker, terutama pengangkut minyak mentah, Fitch memproyeksikan kinerja yang tetap solid hingga 2026. Kondisi ini dinilai menguntungkan Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor minyak mentah maupun BBM, karena pasokan kapal tanker diperkirakan stabil.
Di sisi lain, sektor kapal curah kering (bulk)—yang menjadi penopang ekspor batubara dan nikel Indonesia—diproyeksikan berada dalam kondisi lemah namun tidak memburuk. Permintaan kapal masih ada, meskipun marjin keuntungan tidak akan setinggi masa-masa booming sebelumnya.
Keterbatasan Armada Baru
Fitch juga mencatat adanya peningkatan moderat pada pesanan kapal baru secara global, sementara tingkat pembongkaran (scrappage) masih rendah.
Hal ini membuat pertumbuhan kapasitas armada dunia relatif terbatas. Situasi serupa terlihat di Indonesia, di mana para operator menghadapi tantangan biaya besar untuk melakukan pembaruan armada, terlebih menjelang penerapan regulasi Net Zero dari IMO yang masih menunggu finalisasi.













