JurnalPatroliNews – Jakarta – Pergerakan Bitcoin kembali menunjukkan tren naik pada awal Januari 2026. Aset kripto terbesar di dunia ini tercatat menguat sekitar 1,14 persen dalam kurun 24 jam terakhir dan diperdagangkan di kisaran 89.881 dolar AS pada Sabtu, 3 Januari 2026, merujuk pada data CoinMarketCap.
Kenaikan tersebut dipicu oleh tekanan likuidasi terhadap posisi jual (short squeeze) di pasar. Dalam sehari, kontrak short Bitcoin senilai kurang lebih 90,67 juta dolar AS terpaksa ditutup. Nilai ini menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2025. Lonjakan likuidasi terjadi ketika harga Bitcoin sempat menembus level psikologis 90.000 dolar AS, sehingga memicu lonjakan pembelian secara berantai dan mendorong harga naik lebih cepat.
Dari sisi investor institusional, sentimen positif semakin menguat seiring kembalinya arus dana ke produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Pada 2 Januari, ETF jenis ini mencatat aliran dana masuk bersih sebesar 463,89 juta dolar AS, berbalik dari tren keluar yang terjadi sebelumnya.
ETF IBIT milik BlackRock menjadi penyumbang terbesar dengan tambahan dana sekitar 280 juta dolar AS, mencerminkan meningkatnya kembali kepercayaan investor besar terhadap prospek Bitcoin.
Secara analisis teknikal, pergerakan Bitcoin mulai memperlihatkan sinyal penguatan meski belum sepenuhnya solid. Harga BTC kembali berada di atas rata-rata pergerakan sederhana (SMA) tujuh hari di level 88.198 dolar AS. Selain itu, indikator MACD membentuk persilangan bullish, sementara indeks kekuatan relatif (RSI) periode 14 berada di angka 53,88, menandakan ruang kenaikan masih terbuka sebelum memasuki fase jenuh beli.
Bagi pelaku pasar jangka pendek, sinyal teknikal tersebut dapat dibaca sebagai peluang akumulasi. Meski demikian, Bitcoin masih dihadapkan pada zona hambatan penting di area 92.200 dolar AS dan 94.600 dolar AS, yang sebelumnya menjadi titik harga tertinggi dan berpotensi menahan laju kenaikan.













