JurnalPatroliNews – Jakarta – Keputusan Indonesia untuk menutup keran impor beras sejak 2025 di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto membawa dampak besar bagi peta pangan global.
Kebijakan swasembada tersebut bukan hanya mengokohkan kemandirian nasional, tetapi juga mengguncang keseimbangan pasar beras internasional hingga memicu penurunan harga secara tajam.
Menteri Pertanian yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan bahwa absennya Indonesia sebagai pembeli utama membuat negara-negara pengekspor mengalami kelebihan pasokan. Kondisi tersebut secara langsung menekan harga beras dunia hingga turun hampir separuhnya.
“Harga beras internasional yang sebelumnya berada di kisaran 650 dolar AS per metrik ton kini jatuh ke sekitar 340 dolar AS. Penurunannya mencapai 44 persen,” ujar Amran saat Panen Raya sekaligus Pengumuman Swasembada Pangan oleh Presiden Prabowo di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
Penurunan harga tersebut turut tercermin dalam data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Indeks Harga Beras FAO tercatat berada di angka 96,9 pada November 2025, menjadi level terendah dalam lima tahun terakhir.
Di dalam negeri, hasil kerja sama lintas sektor antara Kementerian Pertanian, TNI, Polri, dan berbagai lembaga terkait membuahkan capaian bersejarah. Stok beras nasional di awal 2026 mencapai 3,25 juta ton, tertinggi dalam 18 tahun terakhir tanpa dukungan impor satu butir pun.
Amran menekankan bahwa keberhasilan ini sepenuhnya bersumber dari produksi petani lokal yang kini merasakan dampak langsung berupa peningkatan kesejahteraan.
“Ini adalah prestasi petani Indonesia yang kini diakui dunia. Hasil kerja mereka memberi manfaat global. Inilah puncak kebahagiaan bagi petani,” tuturnya.
Tidak adanya permintaan dari Indonesia sepanjang 2025 membuat pasar global mengalami kelebihan suplai. Akibatnya, harga internasional tertekan ke titik terendah, sementara kondisi di dalam negeri justru berpihak pada produsen.
Menurut Amran, kebijakan Presiden Prabowo secara nyata mengangkat posisi petani nasional. Harga gabah meningkat, pendapatan membaik, dan kesejahteraan petani mengalami lonjakan signifikan.
“Hari ini benar-benar menjadi hari kebahagiaan petani Indonesia. Harga gabah naik, kesejahteraan pun ikut terangkat,” katanya.
Tanpa ketergantungan impor, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berhasil menembus lebih dari 3 juta ton—angka tertinggi dalam hampir dua dekade untuk stok murni produksi dalam negeri.
Sebagai catatan, stok nasional pada 2008–2009 hanya berkisar 1,1 hingga 1,6 juta ton. Pada periode 2019–2021 bahkan sempat berada di rentang 0,8 sampai 2,2 juta ton. Lonjakan signifikan baru terjadi pada 2025, sepenuhnya berasal dari panen petani Nusantara.
Capaian tersebut menegaskan bahwa kolaborasi kuat antara pemerintah, aparat keamanan, dan petani telah berhasil mentransformasi ketahanan pangan Indonesia menjadi kekuatan global yang diperhitungkan.














