JurnalPatroliNews – Jakarta – Hubungan Rusia dan Amerika Serikat kembali memanas setelah terjadinya penyitaan kapal tanker minyak berbendera Rusia oleh pasukan khusus Amerika Serikat. Insiden tersebut memicu reaksi keras dari kalangan elite politik di Moskow, yang menilai tindakan Washington sebagai provokasi serius.
Salah satu suara paling lantang datang dari Aleksey Zhuravlyov, Wakil Ketua Pertama Komite Pertahanan Duma Negara Rusia. Ia menilai penyitaan kapal tanker bernama Marinera oleh Angkatan Laut AS sama artinya dengan serangan langsung terhadap Rusia, lantaran kapal tersebut berlayar dengan bendera nasional Rusia.
Menurut Zhuravlyov, Moskow tidak boleh tinggal diam menghadapi langkah tersebut. Ia bahkan secara terbuka menyerukan respons militer sebagai bentuk balasan.
“Rusia perlu memberikan jawaban militer. Serangan torpedo atau penenggelaman kapal-kapal Amerika bisa menjadi opsi,” kata Zhuravlyov, seperti dikutip media UK Express, Jumat, 9 Januari 2026.
Ia menyamakan tindakan Amerika Serikat dengan aksi pembajakan terhadap kapal sipil yang dilindungi oleh simbol kedaulatan Rusia. Dalam pandangannya, respons keras diperlukan untuk menunjukkan bahwa Moskow tidak akan mentolerir perlakuan semacam itu.
Penyitaan tanker Marinera sendiri dilaporkan terjadi di perairan internasional Samudra Atlantik. Operasi tersebut diklaim pihak AS sebagai bagian dari penegakan sanksi terkait perdagangan minyak yang diduga memiliki kaitan dengan Venezuela.
Sejumlah pengamat internasional mengingatkan bahwa seruan untuk menyerang kapal Amerika Serikat berpotensi memperluas eskalasi konflik. Langkah ekstrem semacam itu dinilai dapat menyeret kekuatan militer lain dan memperburuk ketegangan global yang sudah tinggi.














