Trump Singgung Opsi Militer AS di Tengah Gelombang Protes Besar di Iran

JurnalPatroliNews – Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyoroti situasi politik Iran yang kian memanas akibat demonstrasi anti-pemerintah yang meluas. Dalam pernyataannya pada Jumat, 9 Januari 2026, Trump memberi sinyal bahwa opsi kekuatan militer bisa dipertimbangkan Amerika Serikat apabila kekerasan terhadap massa aksi terus terjadi.

Trump menggambarkan kondisi Iran berada dalam tekanan serius, menyusul laporan bahwa para pengunjuk rasa mulai menguasai sejumlah wilayah yang sebelumnya dinilai stabil.

“Iran sedang menghadapi masalah besar. Rakyatnya kini mengambil alih kota-kota yang beberapa minggu lalu tidak pernah terbayangkan,” ujar Trump, seperti dikutip Al Jazeera, Sabtu, 10 Januari 2026.

Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan beredarnya berbagai video aksi unjuk rasa besar-besaran di Iran. Untuk meredam mobilisasi massa, pemerintah Iran dilaporkan menutup akses internet secara nasional. Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan berdiam diri apabila aparat keamanan Iran bertindak represif terhadap demonstran.

“Jangan menembak. Jika kalian menembak, kami juga akan menembak,” kata Trump, sebuah pernyataan bernada ancaman yang mengindikasikan kemungkinan intervensi militer AS jika kekerasan terus meningkat.

Trump juga mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat dapat memberikan dukungan kepada para demonstran, sembari menekankan kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil di tengah situasi yang semakin tidak terkendali.

“Saya berharap para demonstran bisa selamat. Saat ini Iran adalah tempat yang sangat berbahaya,” tambahnya.

Kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan sedikitnya 62 orang meninggal dunia sejak aksi protes dimulai pada 28 Desember, terdiri dari aparat keamanan dan puluhan warga sipil. Media pemerintah Iran turut menayangkan gambar bentrokan, kerusuhan, serta kebakaran di sejumlah wilayah.

Pernyataan Trump tersebut memicu respons keras dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Khamenei menyerukan persatuan nasional dan menuding aksi demonstrasi sebagai bagian dari rekayasa kekuatan asing, khususnya Amerika Serikat.

Pemerintah Iran juga menuduh AS dan Israel sebagai aktor di balik eskalasi protes. Tuduhan itu langsung dibantah Washington. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyebut klaim tersebut sebagai tidak berdasar dan hanya upaya pemerintah Iran untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis domestik yang sedang berlangsung.