JurnalPatroliNews – Jakarta –Â Amerika Serikat disebut memiliki peluang besar untuk menguasai sekitar 30 persen cadangan minyak dunia apabila berhasil mengendalikan sektor energi Venezuela. Analisis terbaru JP Morgan menyebutkan, pengaruh Washington terhadap industri minyak dan gas negara Amerika Latin itu berpotensi mengubah lanskap pasar energi global secara drastis.
Dalam laporan yang dikutip pada Minggu, 11 Januari 2026, JP Morgan menilai bahwa penguasaan atas cadangan migas Venezuela—yang dikenal sebagai yang terbesar di dunia—akan menempatkan AS sebagai negara dengan kepemilikan cadangan minyak paling dominan secara global.
Isu ini mencuat setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer yang berujung pada tumbangnya Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada akhir pekan lalu. Presiden AS Donald Trump bahkan mengklaim pemerintahannya kini telah memegang kendali atas Venezuela.
Trump menegaskan bahwa pengaruh Amerika di kawasan Belahan Bumi Barat akan semakin kokoh dan tak lagi dapat dipertanyakan.
Secara historis, Venezuela pernah menjadi raksasa produsen minyak dunia. Pada dekade 1970-an, produksi minyaknya menembus lebih dari 3,5 juta barel per hari. Namun, seiring waktu, produksi terus merosot tajam hingga kini hanya berkisar di angka 1 juta barel per hari.
Penurunan tersebut dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya tekanan sanksi negara-negara Barat sejak tahun 2010-an. Situasi memburuk pada 2017 ketika pemerintahan Trump memperketat sanksi terhadap sektor energi Venezuela, termasuk pembatasan akses ekspor minyak ke pasar Amerika Serikat.
Setelah jatuhnya Maduro, Trump mendorong perusahaan-perusahaan energi asal AS untuk kembali menghidupkan industri minyak dan gas Venezuela. Namun demikian, sejumlah pengamat menilai langkah tersebut tidak akan mudah diwujudkan, mengingat besarnya kebutuhan investasi—yang diperkirakan mencapai miliaran dolar—di tengah kondisi pasar energi global yang masih melemah.














