JurnalPatroliNews – Jakarta – Insiden pengeroyokan terhadap seorang guru oleh sejumlah siswa SMK di Jambi menuai keprihatinan luas dan menjadi sorotan serius di Senayan. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari Singkarru, menilai peristiwa tersebut sebagai alarm keras yang menunjukkan adanya krisis adab dan melemahnya relasi antara guru dan peserta didik di lingkungan sekolah.
Ratih menegaskan, tragedi itu seharusnya tidak disikapi dengan saling menyalahkan antara siswa, guru, maupun kurikulum. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada merosotnya nilai karakter serta komunikasi yang tidak sehat dalam praktik pendidikan sehari-hari.
“Peristiwa di Jambi ini adalah cermin buram bagi dunia pendidikan kita. Daripada mencari siapa yang salah, lebih baik kita jadikan ini sebagai bahan evaluasi bersama untuk memperbaiki sistem dan budaya di sekolah,” ujar Ratih kepada wartawan, Jumat, 17 Januari 2026.
Kasus tersebut mencuat setelah beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan seorang guru menjadi korban pengeroyokan di area sekolah. Rekaman itu memicu kecaman publik dan perdebatan nasional mengenai disiplin siswa, profesionalisme guru, hingga efektivitas kebijakan pendidikan yang berjalan saat ini.
Ratih mengakui, dinamika di ruang kelas kini tidak lagi ideal. Guru dihadapkan pada tantangan besar dalam menegakkan kedisiplinan tanpa kekerasan, sementara sebagian siswa belum memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pendapat atau teguran.
“Ketika rasa tersinggung dibalas dengan kekerasan massal, itu menandakan krisis karakter yang serius. Solidaritas yang seharusnya positif justru berubah menjadi perilaku premanisme yang tak bisa ditoleransi,” tegasnya.
Legislator NasDem itu juga menolak anggapan bahwa insiden tersebut merupakan bukti kegagalan Kurikulum Merdeka. Ia menegaskan, tidak ada kebijakan pendidikan yang membenarkan kekerasan dalam bentuk apa pun, sehingga akar masalahnya terletak pada pelaksanaan dan pembinaan karakter di lapangan.
Ratih menilai dunia pendidikan tengah berada dalam masa transisi yang membutuhkan penguatan nilai kemanusiaan. Guru masih beradaptasi mencari pendekatan pendisiplinan yang tepat, sementara siswa perlu dibimbing agar mampu bertanggung jawab atas kebebasan yang mereka miliki.
“Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Sudah waktunya kita memperbaiki komunikasi, meneguhkan nilai adab, dan membangun karakter di sekolah agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.














