Trump Incar Greenland hingga Kolombia, Andre Vincent Wenas: Indonesia Mesti Pandai Mendayung

Oleh: Andre Vincent Wenas

Rakyat Venezuela bersorak-sorai gembira begitu mengetahui Presiden Nicolas Maduro dan istrinya ditawan pasukan elit Delta Force dan digelandang ke Amerika. Presiden yang juga simbol negaranya diperlakukan seperti itu kok rakyatnya malah bergembira?

Donald Trump di atas pesawat kepresidenannya (Air Force 1) terang-terangan di hadapan wartawan berkata, “The second strike of Venezuela is possible if its leaders do not behave.” Ayo anak-anak jangan bandel, di dalam kelas ini (di Western Hemisphere maksudnya) mesti nurut apa kata Pak Guru Donald.

Ini “Western Hemisphere” dimana hegemoni Amerika Serikat dipandang hampir mutlak. Kecuali Kuba yang sedang diincar terus sejak insiden Teluk Babi (1961) jaman Dwight David “Ike” Eisenhower, kemudian menyusul Krisis Misil Kuba (1962) masa John Fitzgerald Kennedy, keduanya versus Fidel Castro yang didukung Uni Soviet pada masa Nikita Sergeyevich Khrushchev berkuasa.

Meksiko dan Kolombia (negara tetangga Venezuela) juga patut ketar-ketir, lantaran kartel kokain yang sulit dibantah telah bekerjasama dengan otoritas di negara masing-masing untuk mengekspor produknya ke Amerika Serikat. Sebuah pasar gemuk yang mencintai produknya (walau merusak generasi di sana) tapi benci produsennya. Sebuah relasi benci tapi rindu yang aneh. Coba simak serial “Narcos” di Netflix, mulai dari mengejar Pablo Escobar di Medellin lanjut ke “The Gentlemen of Cali” (Gilberto Rodriguez Orejuela, Miguel Rodriguez Orejuela, Jose Santacruz Londono, Helmer “Pacho” Herrera) di Kolombia, sambung ke Meksiko menggulung Miguel Angel Felix Gallardo sampai ke era Joaqin “El Chapo” Guzman.

Seru dan kita dipertontonkan bagaimana lihai dan jahatnya Kartel itu mengempit penguasa di negaranya demi mengekploitasi pasar narkoba di Amerika Serikat. Kartel-kartel ini menguasai arus-kas (cash-flow) sampai ratusan bahwa miliaran dolar, dan duitnya sudah di-laundry lewat berbagai muslihat.

Saat ini para bankir di negara-negara seperti Swiss, Singapura, Cayman Island dan lain-lain sedang tekun mengikuti perkembangan yang terjadi di Venezuela, negara asal para Miss World dan Miss Universe ini, supaya tidak terjadi “Miss Understanding” dalam pertimbangan kebijakan perbankan mereka menyangkut duit simpanan para mafia narkoba. Singapura itu tetangga kita, apakah duit cucian kartel itu mengalir ke portofolio IDX (Indonesia Stock Exchange) dan BKPM? Nobody ever knows.

Alasan yang sama seperti saat menganeksasi Venezuela bisa didaur ulang untuk men-justifikasi pengiriman paket armadanya ke halaman depan Meksiko dan Kolombia. Pasukan siluman Delta Force-pun siap membawa jalan-jalan pemimpin kedua negara Amerika Latin itu ke penjara Guantanamo pasca peradilan yang (kemungkinan) bakal direkayasa sedemikian rupa sehingga terasa adil di mata dunia internasional. Pertanyaannya, bagaimana Indonesia mesti bersikap?